"Ibu dan ayah memiliki pengaruh luar biasa pada anak-anak mereka," ujar Dr John Krystal, editor jurnal Biological Psychiatry seperti dikutip dari ScienceDaily (6/9/2011).
Sebagian besar penelitian hanya difokuskan pada pengaruh ibu. Namun kali ini peneliti menyelidiki pengaruh ayah dan menemukan bahwa tikus jantan yang terkena stres kronis akan menurunkan perilaku stresnya kepada keturunannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang perlu digarisbawahi disini adalah perubahan perilaku ini hanya didapatkan pada proses reproduksi alami, bukan melalui pembuahan luar rahim atau fertilisasi in vitro.
"Temuan pada tikus ini meningkatkan kemungkinan bahwa risiko seseorang mengalami depresi klinis atau gangguan stres dapat ditentukan dari tingkat stres ayahnya," ujar penulis Dr Eric Nestler, dari Mount Sinai School of Medicine di New York sekaligus ketua penulis penelitian.
Risiko mengalami depresi bisa meningkat secara signifikan akibat adanya tekanan stres kronis yang dipengaruhi oleh lingkungan ataupun genetika. Interaksi dari kedua faktor ini terbilang cukup rumit.
Namun ternyata ada faktor ketiga yang mempengaruhi yaitu Epigenetika. Epigenetika adalah ilmu perubahan ekspresi genetik yang bukan disebabkan oleh perubahan aktual dalam sekuensing DNA.
(ver/ir)











































