Ibu yang bekerja sering kali mengalami kesulitan memberikan ASI eksklusif kepada bayinya karena keterbatasan waktu dan tidak adanya ketersediaan fasilitas untuk menyusui di tempat kerja, dampaknya banyak ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif.
Jumlah pekerja perempuan di Indonesia mencapai sekitar 40,74 juta dengan pekerja usia reproduksi sekitar 25 juta jiwa. Kelompok usia ini kemungkinan akan mengalami proses kehamilan, melahirkan dan menyusui selama bekerja, karenanya dibutuhkan perhatian yang serius agar bekerja tidak lagi menjadi halangan ibu untuk memberikan ASI eksklusif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adji menuturkan ada 4 langkah yang bisa dilakukan agar perusahaan punya ciri-ciri sayang bayi, yaitu:
- Mendukung calon ibu untuk memastikan pekerja perempuan mendapat cuti melahirkan sesuai dengan peraturan yang ada.
- Perusahaan harus menerima kembali ibu untuk bekerja dengan jaminan tanpa dampak apapun seperti pemotongan gaji.
- Memungkinkan ibu untuk memberi ASI secara layak dengan memberikan waktu yang cukup dalam memberi atau memompa ASI selama bekerja. Serta perusahaan menyediakan fasilitas higienis di tempat kerja seperti akses air bersih dan tempat penyimpanan ASI.
- Mendukung pemberian ASI eksklusif sebagai awal kehidupan anak.
Sementara Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM menuturkan ada banyak keuntungan yang didapat perusahaan seperti mengurangi biaya kesehatan ibu dan bayi, meningkatkan produktivitas karyawan, meningkatkan reputasi perusahaan dan mengurangi stres pekerja perempuan.
"Diperlukan 3 faktor yang esensial untuk menjamin keberhasilan memadukan menyusui dan bekerja yaitu waktu, ruangan dan dukungan," ujar Dr Utami.
Dr Utami menjelaskan lebih lanjut ketiga faktor ini yaitu:
- Waktu, dalam hal ini mencakup waktu cuti, jam kerja (seperti tidak memberikab shift malam untuk ibu menyusui) dan lactation breaks (jeda untuk menyusui atau memerah selama 30-60 menit sehari).
- Ruangan, dalam hal ini tempat penitipan anak, tempat untuk memerah ASI yang layak dan klinik laktasi.
- Dukungan, dalam hal ini managemen perusahaan, trman kerja yang bersikap positif, prndukung ASI di serikat buruh dan tersedia konselor laktasi atau rujukan.











































