Imunisasi Juga Pernah Ditolak di India

Imunisasi Juga Pernah Ditolak di India

- detikHealth
Jumat, 14 Okt 2011 15:01 WIB
Imunisasi Juga Pernah Ditolak di India
Jakarta - Sebagian kalangan masih menolak imunisasi dan vaksinasi karena dianggap berbahaya dan mengandung zat-zat yang diharamkan oleh agama. Bukan cuma di Indonesia, WHO mencatat bahwa kasus penolakan seperti ini juga pernah terjadi di India.

Hal itu diungkap oleh Dr Monir Islam, Director of Family Health and Research SEARO (South-East Asia Regional Office) selaku perwakilan organisasi kesehatan dunia atau WHO untuk Asia Tenggara ketika dimintai pendapat soal penolakan terhadap program imunisasi dan vaksinasi.

"Bukan hanya di Indonesia. Kami punya satu kasus di India, di West Bengal yang juga merupakan basis komunitas muslim," ungkap Dr Monir saat ditemui usai rapat koordinasi tentang intensifikasi imunisasi campak dan polio di Hotel Aryadutha, Jumat (14/10/2011).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mengatasinya, dokter asal Bangladesh ini mengatakan pemerintah harus merangkul para pemuka agama untuk duduk bersama dan meluruskan berbagai kesalahpahaman. Dalam pandangan sebagian kaum muslim, vaksin pasti mengandung unsur babi yang diharamkan sehingga vaksin juga dianggap haram.

Dalam kenyataannya, tidak semua vaksin dibuat dengan melibatkan persinggungan dengan unsur babi. Kalaupun ada persinggungan, hal itu terjadi dalam proses awal penyiapan bibit vaksin puluhan tahun sebelumnya dan tentunya sudah dicuci atau difilterisasi hingga benar-benar bersih.

Dr Monir menambahkan, secara umum cakupan imunisasi campak dan vaksinasi polio di Asia sudah mencapai rata-rata 73 persen dengan rentang 60-90 persen. Pencapaian di bebagian negara seperti Sri Lanka, Thailand, Indonesia dan Bangladesh sudah tinggi sementara di negara lain seperti Timor Leste masih rendah.

Tidak meratanya cakupan imunisasi juga terjadi di masing-masing negara. Misalnya di satu daerah cakupannya sangat tinggi hingga 90 persen, namun di daerah lain yang sulit dijangkau misalnya, masih sangat rentah meski jika dilihat rata-rata secara nasionalnya tetap tinggi.

Untuk itu WHO tidak hanya menetapkan target berdasarkan pencapaian secara nasional, tetapi juga pencapaian di tiap daerah. Lewat imunisasi dan vaksinasi rutin, diharapkan tiap negara bisa mencakup 90 persen populasi anak secara nasional dan minimal 80 persen di tiap-tiap kabupaten/kota.

(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads