"Remaja bukanlah orang yang berada diluar masalah, tapi menghadapi banyak masalah. Penyakit menular seksual, HIV/AIDS, kehamilan tidak dikehendaki, aborsi, penggunaan drug, kekerasan. Bahkan bukan hanya remaja, tapi anak-anak juga mengalaminya. Ini harus mendapat perhatian karena sering diabaikan oleh pemerintah sebagai pemangku kebijakan," ujar Prof. Dr. Muhadjir Darwin, MPA, Ketua Panitia 'The 6th Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health and Right 2011', saat konferensi pers di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Rabu (19/10/2011).
Prof Muhadjir mengatakan kesehatan remaja yang mengalami bermasalah sering diabaikan oleh pemerintah dan dianggap memalukan. Belum ada kebijakan berarti, jikapun ada kebijakan tersebut tidak mengakar pada masalah dan tidak masuk pada masalah yang riil dihadapi remaja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program kesehatan reproduksi remaja belum cukup menukik ke dalam inti permasalahan yang dihadapi remaja, hanya sebatas pada pemberian informasi terkait kesehatan reproduksi, dan belum sampai kepada pemberian layanan.
Remaja justru kerap menjadi korban kebijakan yang salah arah. Misalnya. Bagi pelajar perempuan mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki, solusi sekolah pada umumnya adalah mengeluarkan anak itu karena mencemarkan nama baik sekolah.
"Masalah remaja ini dianggap memalukan. Tapi kita tidak bisa menjudge mereka dengan norma orang tua dulu. Kita harus mencari cara untuk mengatasi secara riil masalah remaja," jelas Prof Muhadjir.
Prof Muhadjir memberi contoh, misal pada remaja yang menderita infeksi menular seksual (IMS), harus ada pelayanan khusus untuk remaja.
"Banyak remaja yang malu ke dokter karena takut dianggap aib. Harus ada jasa pelayanan khusus, tidak perlu ada klinik khusus remaja tapi secara umum ada jam khusus untuk remaja. Termasuk untuk remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan," lanjut Prof Muhadjir.
Contoh lain pada remaja yang menggunakan narkoba. Pemerintah kadang tidak punya cara yang baik untuk mengatasi masalah yang seharusnya, seperti latar belakang penggunaan narkoba atau bagaimana menyadarkannya.
"Kita tidak bisa menjudge mereka hanya dengan moral. Kebijakan itu dasarnya bukan untuk mengatasi rasa malu tapi mengatasi masalah lanjutan," ungkap Prof Muhadjir.
Menurut Prof Muhadjir, permasalahan ini tidak hanya dihadapi di Indonesia saja, tetapi juga banyak negara lain.
"Remaja masih dijadikan objek bukan subjek yang bisa berpendapat, didengar dan diperhatikan. Remaja juga perlu diakui hak-haknya termasuk perspektif hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi. Kita ingin konferensi ini menjadikan remaja sebagai mainstream," tutup Prof Muhadjir.
Remaja Butuh Pendidikan Seksual yang Komprehensif
Banyaknya masalah remaja seperti kehamilan yang tidak direncanakan, pernikahan dini, infeksi HIV/AIDS, kekerasan seksual terjadi karena minimnya pendidikan seksual yang komprehensif dan akses pelayanan kesehatan reproduksi yang ramah remaja.
Remaja adalah fenomena kependudukan yang unik. Walau terminologi Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) mendefinisikan remaja sebagai individu berusia 15 hingga 24 tahun, sesungguhnya sulit menentukan kategori usia remaja yang mampu mewakili kondisi individu yang tidak lagi anak-anak, namun juga belum dewasa.
Kondisi fisik dan kejiwaan remaja yang berada dalam masa 'transisi' ini membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual mereka.
Berbagai macam masalah seperti kehamilan yang tidak direncanakan, pernikahan dini, diskriminasi terhadap remaja LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), infeksi HIV/AIDS, kekerasan seksual yang akibat minimnya pendidikan seksual yang komprehensif dan minimnya akses pelayanan kesehatan reproduksi yang ramah remaja menuntut perhatian dan komitmen serius dari pemerintah.
"Anak muda butuh pendidikan seksual dengan kurikulum yang komprehensif. Itu penting karena pemahaman anak muda terbatas," jelas Syefa Ahmed Ipshita, IPPF Governing Council Youth Member & Chairperson of the South Asia Regional Youth Network of IPPF.
Syefa juga menyampaikan bahwa dibutuhkan jasa-jasa pelayanan kesehatan yang ramah terhadap remaja dan anak, khususnya yang mengalami masalah seksual dan reproduksi.
"Tidak harus disediakan klinik khusus tetapi cukup disediakan jam-jam khusus yang diperuntukkan bagi remaja bermasalah, agar tidak malu," lanjut Syefa.
Asia Pasifik termasuk Indonesia memiliki jumlah anak muda yang paling banyak di dunia, yang sangat beragam dari jenis kelamin, kemampuan dan kebutuhan.
Pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja adalah bagian dari hak asasi manusia. Remaja adalah aset suatu bangsa dan kelompok populasi yang besar. Investasi pada kelompok remaja sangat penting untuk mendukung pembangunan suatu bangsa karena remaja adalah pemimpin masa depan.
(mer/ir)











































