Bahan kimia yang disebut biosphenol atau BPA ini sering digunakan untuk membuat plastik botol air dan lapisan dalam kaleng. BPA telah ditengarai sejak lama berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan diabetes.
Tim peneliti mengumpulkan sampel urin dari 244 orang ibu selama kehamilan dan ketika masa kelahiran, kemudian membandingkannya dengan sampel yang diambil dari anak-anak ibu hamil tersebut ketika berusia antara satu hingga tiga tahun. BPA ditemukan sebanyak 85 persen dalam sampel urin para ibu, dan lebih dari 96 persen pada sampel anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah disesuaikan dengan berbagai faktor-faktor kemungkinan, konsentrasi BPA tinggi ternyata berkaitan dengan perilaku hiperaktif, agresif, cemas, depresi dan rendahnya kontrol emosi pada anak perempuan. Hubungan ini tidak terlihat pada anak laki-laki.
"Tidak ada anak yang memiliki perilaku abnormal, tetapi beberapa anak memiliki gangguan perilaku jika dibandingkan dengan yang lain. Jadi, kami memeriksa hubungan antara ibu dan anak-anak terkait konsentrasi BPA dan perilaku yang berbeda. Kajian ini mengkonfirmasi dua kajian sebelumnya yang menunjukkan bahwa paparan BPA terhadap rahim akan berdampak pada perilaku anak-anak," kata Joe Braun, peneliti bidang kesehatan lingkungan di Harvard School of Public Health di Amerika Serikat.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak kesehatan dari paparan BPA terhadap bayi dalam kandungan. Para dokter telah menyarankan agar wanita hamil meminimalkan paparan terhadap bahan kimia dengan menghindari produk makanan kaleng dan kemasan.
(ir/ir)










































