Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Quebec di Montreal, Laval University, University of Alabama, University of Montreal dan University College Dublin menyimpulkan bahwa anak-anak yang memiliki hubungan baik dengan gurunya dapat terlindungi dari agresi dan menjadi target agresi di sekolah.
"Perilaku agresif pada pertengahan masa kanak-kanak sebagian dijelaskan karena faktor genetik, namun pengaruh genetik terhadap perilaku biasanya tidak bebas dari pengaruh lingkungan," kata Mara Brendgen, profesor psikologi di University of Quebec di Montreal yang memimpin penelitian seperti dilansir ScienceDaily, Jumat (28/10/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teman sekelas menilai perilaku agresif si kembar dan sejauh mana ia menjadi korban agresifitas teman-temannya. Guru si kembar menilai kualitas hubungan si kembar dengan pasangan kembarnya. Efek genetik agresi diukur dengan membandingkan kesamaan perilaku pasangan kembar identik dan fraternal.
Kajian ini menemukan bahwa anak-anak yang secara genetik rentan menjadi agresif cenderung menjadi korban oleh teman sekelasnya. Namun, anak-anak ini dilindungi dari bertindak agresif dan menjadi target agresi anak-anak lain jika memiliki hubungan yang sangat baik dengan gurunya. Hubungan baik tersebut didefinsiakan sebagai hubungan yang hangat, penuh kasih sayang, dan komunikasi yang terbuka.
"Hubungan anak dengan guru dan dengan teman sebaya di sekolah memainkan peran penting dalam membentuk perilaku sosialnya. Kajian kami menemukan bahwa hubungan yang baik dengan guru dapat melindungi anak-anak yang rentan bertindak agresif dan menjadi target perilaku agresif anak-anak lain," kata Brendgen.
Temuan ini dapat menginformasikan intervensi yang bertujuan untuk mengatasi agresi anak-anak, dan juga dapat digunakan dalam upaya pelatihan guru.
(ir/ir)











































