Oleh karena itu, para ilmuwan mencoba menyarankan para dokter untuk mempertimbangkan perubahan jadwal vaksinasi untuk mencegah munculnya wabah tersebut.
Sebelumnya wabah batuk rejan pernah terjadi di California pada 2010. Wabah batu rejan ini merupakan yang terbesar dalam 53 tahun dengan jumlah kasus pertussis sebanyak 10.000 dan 10 kasus kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, "Anak-anak berusia 8-12 paling rentan mengalami batuk rejan meskipun telah divaksinasi. Anak-anak ini memiliki tingkat batuk rejan lebih tinggi dari anak usia lain yang juga telah divaksinasi," kata peneliti Dr David Witt, seorang dokter ahli penyakit menular di Kaiser Permanente Medical Center, San Rafael, California seperti dilansir dari MSNBC, Rabu (6/6/2012).
Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Clinical Infectious Diseases ini tercatat bahwa tingkat kejadian batuk rejan pada anak yang divaksinasi adalah 245 per 10.000 anak usia 8-12, dibandingkan dengan 36 per 10.000 anak usia 2-7. (Tingkat kejadian batuk rejan pada anak-anak yang tidak divaksinasi justru lebih tinggi yaitu sekitar 320 per 10.000 anak usia 8-12).
Dari situ peneliti bisa menentukan bahwa vaksin 41 persen efektif melindungi anak-anak usia 2-7, tetapi hanya 24 persen efektif melindungi anak-anak berusia 8-12. Bahkan vaksin 79 persen efektif melindungi remaja berusia 13-18.
Sebuah suntikan penguat batuk rejan yang diberikan pada usia 8 tahun akan "mengurangi beban penyakit pertussis," kata Dr Paul Offit, direktur Vaccine Education Center di Children's Hospital of Philadelphia, tetapi "berat untuk dilakukan."
Hal ini karena pemberian suntikan penguat yang dijadwalkan untuk usia ini akan membutuhkan kunjungan dokter sebelum anak-anak membutuhkannya, kata Offit. Anak-anak biasanya pergi ke dokter untuk mendapatkan suntikan ini pada usia yang lebih muda lalu pada usia 11 atau 12 saat memasuki sekolah menengah. "Itu bukanlah sebuah platform untuk mendasari pemberian vaksin," kata Offit.
Namun Dr William Schaffner, direktur kedokteran pencegahan di Vanderbilt University School of Medicine mengatakan bahwa garis depan tindakan untuk mencegah wabah itu adalah memastikan semua orang menerima vaksin batuk rejan, termasuk remaja berusia 11-12 dan orang dewasa.
Ini akan mengurangi peredaran penyakit pertussis dan menurunkan kemungkinan bagi orang-orang yang kekebalan memudarnya untuk terinfeksi, pungkas Schaffner.











































