"Tempat kerja sayang ibu adalah yang memungkinkan karyawati dan istri karyawannya memberikan ASI eksklusif. Walau demikian, memang setiap tempat kerja memiliki sumber dan hambatan yang khusus," kata dr Utami Roesli, SpA ketua Sentra Laktasi Indonesia dalam acara seminar 'Kiat Sukses Memberikan ASI bagi Ibu Bekerja' di Gedung Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, dan ditulis pada Senin (17/12/2012).
Dr Utami menjelaskan bahwa berbagai penelitian sudah menemukan banyak manfaat tempat kerja sayang ibu bagi perusahaan. Misalnya sebuah penelitian tahun 2002 yang dilakukan US Breastfeeding Commitee menemukan bahwa tempat kerja sayang ibu dapat mengurangi turn over dan kehilangan tenaga terampil. Turn over akan berdampak pada pengurangan tenaga kerja terampil dan menambah pengeluaran perusahaan untuk rekruitmen dan melatih karyawan baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, karyawan akan lebih berkomitmen terhadap perusahaan dan meningkatkan prestasi kerja dari 20 persen menjadi 54 persen. Dari segi asuransi, pengeluaran perusahaan juga bisa lebih dihemat. Dari 1.000 bayi yang tidak pernah disusui, sebanyak 2.033 jatuh sakit dan bayi dirujuk ke dokter, mengakibatkan perawatan lebih lama rata-rata 212 hari dan mendapat resep obat lebih banyak. Kesemua biaya pengobatan ini jelas dibebankan kepada asuransi perusahaan.
"Diperlukan 3 faktor yang esensial untuk menjamin keberhasilan memadukan menyusui dan bekerja, yaitu waktu, ruangan serta dukungan," terang dr Utami.
Waktu yang optimal bagi ibu menyusui adalah 6 bulan. Namun kebanyakan perusahaan di Indonesia hanya memberikan waktu cuti hamil selama 3 bulan. Kekurangan waktu 3 bulan ini dapat ditebus dengan adanya 'lactation break', yaitu jeda waktu untuk menyusui atau memerah ASI selama 30 - 60 menit sehari.
Ruangan yang ideal untuk ibu menyusui tidak harus mahal atau eksklusif. Cukup sebuah ruangan tertutup yang nyaman dengan tempat duduk dan kulkas untuk menyimpan ASI hasil perahan.
Dukungan dari perusahaan dapat diwujudkan dalam bentuk peraturan internal tertulis. Intinya adalah manajemen mendukung praktek ibu menyusui dan memerah ASI, meminta teman kerja untuk bersikap positif, mendukung penerapan ASI eksklusif di kalangan serikat buruh dan menyediakan layanan konselor menyusui atau rujukan.
(pah/vit)











































