Anak Tidur Bersama Orang Tua, Apa Untung Ruginya?

Anak Tidur Bersama Orang Tua, Apa Untung Ruginya?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 08 Agu 2013 10:08 WIB
Anak Tidur Bersama Orang Tua, Apa Untung Ruginya?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Setiap ibu pasti bahagia jika bisa tidur sengan buah hatinya dalam satu ranjang. Selain mempererat hubungan keduanya, anak juga bisa mendapatkan bentuk kasih sayang yang lebih besar dari ibunya. Ada beberapa manfaat dari tidur bersama anak tapi di samping itu juga ada risiko utamanya.

"Jika Anda masih bayi, di mana Anda akan memilih untuk tidur? Dalam boks sendiriran di sebuah ruangan gelap di balik jeruji atau berdekatan dengan orang yang Anda sayangi hingga merasakan kehangatan dan keamanan?" kata Dr William Sears, dokter anak dan penulis lebih dari 40 buku tentang pengasuhan anak.

Menurut data Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, sekitar 50 persen orang tua di Amerika Serikat berbagi tempat tidur dengan buah hati mereka dan bagi ibu yang menyusui akan mendapatkan pasokan ASI yang lebih banyak. Terkadang, waktu mereka menyusui anaknya pun lebih lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Chrystal Johnson, pendiri blog Happy Mothering berbagi tempat tidur dengan anaknya yang berusia lima dan tiga tahun," itu menungkinkan saya untuk lebih selaras dengan kebutuhan bayi saya," kata Johnson.

Menurut Dr Susan Markel, dokter anak dan penulis 'What Your Pediatrician Doesn't Know Can Hurt Your Child', bayi memiliki kebutuhan bawaan untuk disentuh dan dipegang. Mereka menikmati hari-hari di mana saat malam hari juga terjadi kedekatakn fisik dengan orang tuaya.

"Koneksi semacam ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan bayi akan kehangatan, keamanan, dan kenyamanan," kata Dr Markel. Sebuah penelitian terbaru di Jurnal Biological Psychiatry menunjukkan bahwa bayi yang tidur terpisah dari ibu mereka tidur mengalami tekanan yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidur bersama ibunya.

Menurut Sears, hal ini terjaid karena fisiologi bayi lebih stabil ketika mereka tidur dengan aman di dekat ibu. Di sisi lain, Professor James J. McKenna, direktur Mother-Baby Behavioral Sleep Laboratory di University of Notre Dame menemukan bahwa anak yang tidur bersama ibunya berisiko 30 persen lebih tinggi mengalami henti napas.

Seperti dikutip dari Fox News, Kamis (8/8/2013), Mary Fisher, pendiri blog The Mommyologist dan penulis The Stir di Cafémom.com mengaku prihatin saat melihat anak bayi yang tidur bersama ibu mereka. Alasannya, setiap tahun sekitar 2.000 bayi meninggal karena Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).

Selain itu, studi terbaru di British Medical Journal Open menunjukkan bahwa bayi yang tidur dengan ibunya lima kali lebih mungkin meninggal karena SIDS, bahkan jika si ibu sedang menyusui. Studi lain dalam American Journal of Public Health menemukan 64 persen bayi meninggal karena SIDS akibat berbagi tempat tidur dengan orang dewasa.

"Kasur dewasa tidak memenuhi standar keamanan, kasur yang empuk dengan bantal, seprei, dan selimut bisa mencekik bayi. Ketika berbagi tempat tidur, orang tua atau anak lain bisa berguling sehingga menyebabkan bayi bergeser di antara kepala, kaki ranjang, dinding, atau meja," jelas Dr Rachel Y. Moon, dokter anak di Children's National Medical Center, Washington DC dan ketua American Academy of Pediatrics bagian SIDS.

Selain itu, Moon mnegatakan bahwa berbagi tempat tidur juga bisa membuat bayi kepanasan. Namun, risiko SIDS memang lebih rendah jika si ibu tidak merokok dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Salah satu langkah protektif mencegah SIDS yaitu orang tua sering terbangun untuk mengecek kondisi anak.

Tidur dengan si kecil sebaiknya jangan dilakukan jika salah satu orang tua obesitas. Ibu juga harus tidur di sisi yang sejajar dengan bayinya, jangan posisikan bayi di bantal atau tempat tidur tambahan. Menurut Zinzi, tidur dengan orang tua mengajarkan anak-anak untuk selalu membutuhkan kontak konstan dan interaksi untuk mendapatkan keselamatan, keamanan, dan kepercayaan dalam diri mereka.

Namun studi dalam jurnal Pediatrics menunjukkan hal sebaliknya bahwa anak yang tidur berpisah dengan orang tuanya cenderung memiliki masalah perilaku. Meskipun Fischer bersikeras menentang kebiasaan orang tua tidur bersama anaknya, ada kalanya kegiatan itu membawa manfaat tak terduga. Contohnya saat sang suami pergi ke luar kota, ia pun mengajak anaknya yang berusia lima tahun untuk tidur bersamanya.

(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads