Sabtu, 19 Okt 2013 10:03 WIB

Perjuangan Citra Selamatkan ASI Perahnya Saat Pemadaman Listrik 29 Jam

- detikHealth
Citra (foto: Ajeng / detikHealth) Citra (foto: Ajeng / detikHealth)
Jakarta - Bagi ibu menyusui yang juga bekerja, ASI perah merupakan harta yang tak ternilai. Apalagi jika sang ibu berkomitmen untuk tetap memberikan ASI eksklusif pada buah hati tercinta. Inilah yang dialami oleh Citra Handayani (28). Saat rumahnya yang berada di wilayah Jakarta Pusat mengalami pemadaman listrik selama 29 jam, ia berjuang mempertahankan kualitas ASI perahnya.

Pada awal Januari 2013 lalu, Jakarta mengalami peristiwa banjir yang cukup parah. Kondisi ini mengakibatkan listrik di beberapa wilayah padam, termasuk wilayah rumah Citra. Ia baru mengetahui bahwa rumahnya mengalami pemadaman listrik setelah 6 jam kemudian, sebab saat itu ia dan suaminya sedang bekerja.

"Pulang-pulang kok rumah gelap. Kebetulan suami saya besoknya mau sidang tesis jadi nggak bisa pulang sore, dia kejar dosen. Akhirnya saya berdua saja dengan anak saya di rumah," ujar Citra.

Bersama putranya, Bumisagara (1), Citra bertahan tinggal di rumahnya. Sekitar 8 jam berlalu, listrik tak juga menyala. Dengan kondisi ponsel yang batereinya terus berkurang, Citra mengupayakan segala cara untuk meminjam freezer atau lemari es untuk menjaga kualitas ASI perahnya.

"Saya sempet-sempetin nge-tweet, mention minta tolong. Tapi habis itu ponsel saya mati, jadi saya nggak bisa cek ada balasan mention atau tidak. Saya benar-benar khawatir dengan kondisi 100 botol lebih ASI perah saya di freezer. Saya cari cara lain, saya minta tolong ke rumah sakit, ke tetangga, supermarket, tapi semuanya nggak bisa," tutur Citra.

Semalamam berdoa, keesokan harinya sang adik ipar tiba-tiba datang berkunjung. Melihat gadget yang dibawanya, Citra meminjamnya dan kemudian memeriksa akun Twitternya, berharap ada mention yang bisa membantunya. Beruntung, ada komunitas ibu menyusui yang memberi respons dan mau meminjamkan freezer-nya untuk ASI perah Citra.

Kebetulan menemukan salah satu anggota komunitas yang lokasinya dekat dengan tempat tinggalnya dan hanya berjarak sekitar 10 menit, Citra pun bergegas membawa seluruh botol ASI perahnya.

"Setelah diperiksa, untungnya masih ada sekitar 70-80 botol ASI yang bisa diselamatkan dan disimpan lagi ke freezer. Sisanya saya harus relakan saya buang," tutur Citra.

Bagaimana Citra tidak berusaha keras mempertahankan ASI perahnya, ia menceritakan bahwa ASI-nya cukup sulit keluar, bahkan cenderung sedikit. Oleh sebab itu ia sangat menjaga kualitas stok ASI perahnya.

"ASI saya saja baru keluar 3 hari setelah melahirkan. Bayi saya sudah mau diberi susu formula oleh perawat karena berat badannya sudah turun 150 gram, tapi saya bersikeras mau beri ASI. Akhirnya bisa keluar meskipun sedikit-sedikit," ungkap Citra kepada detikHealth, saat ditemui dalam acara konferensi pers yang diselenggarakan di Penang Bistro, Grand Indonesia West Mall, Jl MH Thamrin, Jakarta, dan ditulis pada Sabtu (19/10/2013).

Sampai saat ini, Citra yang sedang hamil dengan usia kandungan 4 bulan mengaku masih memberikan ASI untuk sang putra, Bumi. Hanya saja sang dokter sudah menyarankannya untuk menyapih.

"Memang sih, sekarang ASI-nya juga sedikit banget. Awalnya 15 menit bisa dapat 100 ml, sekarang drop jadi 10 ml saja setelah diperah selama 1 jam. Ingin menyapih, tapi belum, soalnya cita-cita saya kan ingin beri ASI sampai usia Bumi 2 tahun," ujar Citra.



(ajg/vta)
News Feed