Oleh karena itulah dilakukan kemitraan bidan dan dukun sebagai salah satu program upaya Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) oleh Kementerian Kesehatan. Menurut sekretaris ditjen Bina Gizi dan KIA, Dr Kuwat Sri Hudoyo, MS, dulu ada pandangan jika meningkatkan pelayanan tenaga kesehatan, maka ingin 'menyingkirkan' dukun bayi.
"Kalau sekarang kita rangkul, kita ajak kerjasama di mana proses persalinan dilakukan oleh bidan sedangkan dukun bayi lebih menolong ke hal-hal yang sifatnya non medis, termasuk juga psikologis," tutur Kuwat di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/12/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dr Riskiyana Sukandhi Putra, MKes mengatakan bahwa peran dukun bayi untuk memberi pertolongan non medis bisa diwujudkan melalui rumah tunggu. Rumah tunggu merupakan rumah singgah bagi ibu-ibu yang ingin melahirkan. Di rumah tunggu itulah para ibu akan diajarkan hal-hal yang bersifat non-medis.
"Nanti ibu-ibu ini akan diajarkan oleh dukun bayi ini bagaimana cara memandikan anak, merawat tali pusat, menyusui, terus nanti dikasih tahu anak harus diimunisasi kapan, kalau anak mulai panas nanti diginiin ya bu. Bayangkan dengan tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi, pengetahuan seperti itu kan pasti berguna sekali," tutur Riski.
Lokasi rumah tunggu yaitu di dekat Puskesmas atau rumah sakit. Sehingga, sambil menunggu persalinan, para ibu bisa belajar bagaimana merawat anaknya. Sampai saat ini, menurut Riski ada sekitar 1.200 rumah tunggu di seluruh Indonesia. Para ibu bisa tinggal di rumah singgah ini beberapa hari sebelum persalinan, tergantung dari luas wilayah dan jalur transportasi.
"Terutama yang di daerah, bisa dia tiga atau lima hari sebelum bersalin sudah di sana. Kalau seperti di Rote, untuk ke fasilitas kesehatan butuh waktu lima hari, maka dia harus di rumah singgah seminggu sebelum melahirkan kan," lanjut Rizki.
Diakui Rizki, memang praktik dukun bayi sangat dipengaruhi tradisi. Oleh karena itu, perlu mengubah kepercayaan masyarakat, salah satunya melalui program menyekolahkan anak dukun bayi untuk menjadi bidan. Rizki menuturkan, dengan anak dukun bayi menjadi bidan, maka perpindahan proses bersalin bisa lebih mudah. Dengan menjadikan anak dukun bayi sebagai bidan, yang merupakan penduduk setempat, juga mempermudah pengalihan peran dari dukun bayi ke bidan.
"Kepercayaan masyarakat kepada ibu (si dukun bayi) besar, jadi si anak ini recommended untuk membantu ibu bersalin. Sehingga, nilai tradisi ini bisa diubah. Sehingga, hanya ada alih peran dari dukun dan bidan, tapi kita tidak 'membunuh' eksistensi dukun bayi itu," papar Rizki.
(up/up)











































