Pemberian Taburia Bisa Bantu Perbaiki Masalah Gizi Anak Indonesia

Pemberian Taburia Bisa Bantu Perbaiki Masalah Gizi Anak Indonesia

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 05 Des 2013 15:59 WIB
Pemberian Taburia Bisa Bantu Perbaiki Masalah Gizi Anak Indonesia
Taburia (Foto: dian/detikHealth)
Jakarta - Gizi kurang dan gizi buruk masih menjadi masalah kesehatan anak-anak di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah melakukan upaya peningkatan gizi salah satunya melalui pemberian taburia pada anak-anak yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk, bahkan anak yang cenderung susah makan.

"Anak dengan status gizi buruk atau kurang dia tidak mau makan sehingga untuk merangsang anak supaya mau makan, maka diberi taburia supaya mereka mau makan Taburia mengandung mineral dan 12 vitamin antara lain A,B1, B2, B3, B6, C,D,B12, dan asam folat," terang Direktur Bina Gizi Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes, Ir Doddy Izwardy, MA.

Doddy menambahkan, pemberian taburia ini juga sebagai pendekatan guna menekan angka gizi buruk, gizi kurang, dan stunting (balita dengan tubuh pendek). Tak hanya itu, taburia juga bisa diberikan pada anak supaya mereka lebih lahap saat menyantap makanan dan otomatis mulai suka dengan buah dan sayur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini makanan ringan seperti chiki adalah makanan yang paling digemari balita sehingga membuat balita ketagihan dan jadi tidak suka sayur serta buah. Taburia ini sebagai perangsang ketika dia biasa makan chiki lalu diberi makan biasa misal nasi atau ayam dia enggak mau. Tapi saat ditaburi taburia ini dia akan lahap makannya," papar Doddy.

Hal itu ia sampaikan dalam 'Temu Media Kinerja Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak' di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/12/2013). Lebih lanjut, Doddy menjelaskan bahwa uji coba pemberian taburia sudah dilakukan pada balita usia 6 bulan sampai 15 tahun. Hasilnya, menurut Doddy, anak-anak memang jadi lebih lahap.

"Taburia baru akan digunakan pada tahun 2014 nanti di sebelas provinsi yaitu Sumatera Seatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan timur, Kalimantan Tengah, NTT, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, dan Sulawesi Utara," tutur Doddy.

Selain itu, upaya peningkatan gizi juga dilakukan dengan pemantauan status gizi yang mengandalkan kegiatan penimbangan di posyandu. Diharapkan, dengan rutin ke posyandu, anak juga bisa mendapat vitamin dan imunisasi jika mereka belum mendapatkannya.

Lalu, dilakukan juga fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A, pemberian makanan tambahan berupa biskuit pendamping ASI yang dibagikan secara gratis oleh Kemenkes, dan scaling up nutrition yang tidak hanya dilakukan pada 1.000 hari pertama kelahiran tapi juga saat wanita masuk usia remaja atau pranikah. Sebab, saat ini wanita usia produktif banyak yang terkena anemia.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 sebanyak 13,9 persen anak di Indonesia mengalami gizi kurang sedangkan yang mengalami gizi buruk sebanyak 5,7 persen. Jumlah anak dengan gizi buruk meningkat dibandingkan tahun 2010 yaitu 4,9 persen. Sedangkan, jumlah anak dengan gizi kurang menurun dari tahun 2010 yaitu 17,9 persen.

(/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads