Hal ini terjadi pada Julie Gregory. Wanita yang berasal dari Ohio, Amerika Serikat ini mengaku kalau ibunya sering membawanya ke dokter walaupun ia tidak merasakan sakit apapun.
"Ibuku selalu membawaku ke dokter atau perawat di sekolah. Ia akan bercerita kalau tenggorokanku sakit setiap saat dan temperatur tubuhku 102 derajat Fahrenheit semalam," ujarnya seperti dilansir dari people.com dan ditulis detikhealth pada Rabu (11/12/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku memang sakit-sakitan sejak kecil. Aku gampang memar dan sering jatuh," tutur Gregory. Hal itulah yang membuat ibunya, Sandy, lebih mudah untuk melaksanakan aksinya. Sandy beralasan kalau hal-hal yang dilakukannya adalah petunjuk dari dokter. Seperti yang dilakukannya pada alergi makanan yang diderita Gregory. Dengan alasan kalau dokter melarang Gregory untuk makan, Sandy pun serta-merta memberhentikan asupan ke anaknya sama sekali.
"Ketika aku mengeluh bahwa perutku sakit, Ibu akan membawaku ke dokter. Ini semua tentang dirinya, kami pergi dokter karena ibu membutuhkan interaksi itu," lanjutnya lagi.
Interaksi yang dimaksud adalah mendapatkan simpati dan perhatian sebagai orangtua dengan anak yang sakit. Sehingga bisa dipastikan kalau Sandy menderita Munchausen by Proxy (MBP).
"MBP adalah salah satu cabang dari Munchausen sindrom. Bedanya, si pengidap tidak menginginkan perhatian dan simpati karena dirinya sakit, namun lebih kepada perhatian dan simpati yang diterimanya karena telah merawat orang sakit," terang Dr. Marc Feldman M.D psikiater ahli dari University of Alabama.
Senada dengan hal itu Dr. John Stang, dokter yang sering ditemui Gregory dan ibunya ketika kecil, mengatakan kalau pada waktu itu MBP belum populer, sehingga tidak banyak diketahui orang.
"Bagi saya, Sandy terlihat seperti orangtua manapun yang menyayangi anaknya. Ia sangat perhatian. Hal itulah yang melindunginya dari pemeriksaan psikiater waktu itu," ujarnya. Ia pun mengakui kalau ketidakmampuannya untuk melihat MBP pada diri Sandy sebagai kesalahannya.
Kini Julie Gregory yang telah berusia 44 tahun masih tinggal di Ohio, walaupun sudah berpisah dari kedua orangtuanya. Harapannya kini adalah orangtuanya mendapat perawatan serta perhatian yang ia butuhkan.
"Saya tidak menyimpan dendam padanya. Namun sampai ia benar-benar sembuh, tidak mungkin kami kembali ke hubungan ibu dan anak seperti dulu," pungkasnya.
(up/up)











































