Tiga Langkah untuk Mencegah Anak Kekurangan Gizi

Tiga Langkah untuk Mencegah Anak Kekurangan Gizi

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Minggu, 05 Jan 2014 12:01 WIB
Tiga Langkah untuk Mencegah Anak Kekurangan Gizi
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Memiliki anak yang cerdas dan berkompeten pasti merupakan dambaan setiap orang tua. Nah, untuk 'mencetak' anak-anak yang cerdas dan berkompeten, salah satu hal penting yang harus dilakukan adalah menghindari kekurangan gizi.

Menurut Prof.dr Endang L. Achadi, MPH, Dr.PH, ada tiga langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari kekurangan gizi. Pemberian ASI eksklusif adalah langkah pertama yang penting dilakukan orang tua. Sebab, secara alamiah ASI sudah mengontrol terjadinya mismatch yaitu akibat dari tidak sesuainya kondisi satu periode dengan periode berikutnya.

"Artinya kalau anak sudah terbiasa kekurangan gizi saat di kandungan, ASI sebenernya menyeimbangkan kondisinya setelah lahir, karena bayi tidak dipaksa. Bayi minum ASI semaunya, kalau kenyang berhenti kalau belum meneruskan lagi," jelas Prof Endang kepada detikHealth usai acara Pengukuhan Guru Besar FK dan FKM UI di Aula FKUI, Jl. Salemba Raya, Jakarta, dan ditulis pada Minggu (5/1/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Prof Endang, takaran ASI itu pas karena kalau bukan ASI, jumlah dan konsentrasinya bisa saja terlalu banyak. Langkah yang kedua adalah seimbang. Artinya dalam menu makan anak harus ada sayur, buah, dan zat gizi lainnya.

"ASI diteruskan sampai dua tahun juga ada makanan pendamping ASI setelah enam bulan. Kalau dua tahun betul-betul seimbang, risiko kekurangan gizi bisa lebih kecil. Tapi jagan dilupakan kalau penyebab kekurangan gizi juga bisa dari infeksi," jelas prof Endang.

Jadi, langkah-langkah mencegah infeksi seperti vaksinansi harus dilakukan. Selain vaksin, orang tua juga harus memperhatikan lingkungan. Apakah anak terpapar lingkungan yang mengandung kuman sehingga ia mudah terkena infeksi sehingga mudah pula mengalami kekurangan gizi.

"Kalau anak lagi main harus dijaga. Boleh main di lantai tapi lantainya dibersihin dulu. Kalau main di luar segera cuci tangan, jangan sampai masuk ke mulut anak-anak," tutur prof Endang.

Jika kekurangan gizi, maka beban negara akan bertambah terutama karena SDM yang ada kurang cerdas sehingga kualitas atau produktivitas SMD kita dikatakan prof Endang kurang kompetitif. Selain itu, kekurangan gizi yang bisa memicu penyakit kronis juga menjadi beban besar.

"Misal diabetes obatnya kan seumur hidup jadi bebannya juga seumur hidup. Kalau bicara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), nanti beban JKN juga gede kalau kita cuma menyembuhkan tapi tidak mencegah. Karena tidak mencegah akan memperbanyak orang yang sakit kan," ucap Prof Endang.

(rdn/vit)

Berita Terkait