Sabtu, 01 Feb 2014 15:04 WIB

ASI Perah Bagus atau Tidak untuk Bayi? Ini Kata Pakar

- detikHealth
Yogyakarta - Anjuran pemberian ASI eksklusif untuk bayi adalah selama enam bulan. Ibu yang sibuk atau ibu yang harus kembali bekerja biasanya menyiasati hal itu dengan memerah ASI lantas memberikannya pada bayi ketika ibu sedang tidak di rumah. Apakah ASI perahan yang telah disimpan di dalam lemari pendingin baik untuk bayi?
 
"ASI perah tentu tidak sebaik ASI menyusu langsung, itu jelas. Kalau disimpan sampai beku, akan berkurang beberapa zat daya tahan tubuhnya," ungkap pakar laktasi, dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM.
 
"Seorang ibu tidak boleh memberikan ASI perah kalau sudah satu atap dengan anaknya," ungkapnya dalam peluncuran Jemput ASI Seketika (JESIKA) JNE di Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa sebagaimana ditulis pada Sabtu (1/2/2014).
 
Pepatah mengatakan tidak ada rotan akar pun Jadi. dr Utami mengumpamakan menyusui sebagai rotan, sedangkan memberi ASI perah seperti akar. Artinya, sebisa mungkin ibu harus menyusui secara langsung dan ASI perah hanya diberikan jika terpaksa.
 
Selama ibu ada satu atap dengan bayi, ibu harus memberikan ASI secara langsung karena ada tiga manfaat yang didapat dari menyusui. Tiga manfaat itu adalah terbentuknya ikatan antara ibu dan anak, manfaat psikobiologi yang meningkatkan oksitosin serta imun tubuh, dan manfaat dari zat yang terkandung dalam ASI yakni HAMLET atau protein antikanker.
 
"Jadi kalau hanya memberikan ASI perah, hanya yang ketiga, HAMLET-nya saja atau antibodinya saja yang didapat. Tetapi bonding ikatan kasih sayang antara bayi dengan ibu dan psikobiologi tidak didapatkan," papar kakak kandung seniman kondang almarhum Hari Roesli ini, ketika diwawancarai detikHealth.
 
Manfaat lain yang juga hilang ketika bayi diberi ASI perahan, menurut dr Utami, adalah ketidakmampuan bayi menentukan kapan ia lapar atau haus.
 Pada sesapan awal, ASI hanya mengandung sedikit lemak dan karbohidrat. Biasanya bayi akan mengonsumsi ASI ini bila haus. Semakin lama sesapan, semakin tinggi lemak dan karbohidrat yang dikandung. B

ila bayi lapar, ia akan menyesap lebih lama untuk mendapatkan asupan karbohidrat dan lemak itu. Tapi pada ASI perahan, akan terjadi percampuran sehingga tidak jelas mana ASI yang rendah atau tinggi karbohidrat dan lemak.
 
"Kalau kita kasih ASI perah, kita tidak tahu dia haus atau lapar, kita jejali saja nasi (karbohirat) dan lemaknya sekalian," sambung dr Utami.
 
Wanita yang sempat terkena kanker payudara akibat gagal menyusui anaknya itu kini justru menjadi pejuang ASI yang sangat gigih. Ia berpesan agar para ibu memberikan ASI secara langsung untuk bayi meskipun stok ASI perahan di lemari pendingin masih banyak. Dengan demikian, akan ada manfaat yang diperoleh.



(vit/vit)
News Feed