Tidak sedikit orang tua yang merasa jengkel dan jengah ketika mereka membantu anak mengerjakan PR. Saking jengahnya, penelitian terbaru mengatakan bahwa satu dari enam keluarga, orang tualah yang mengerjakan PR anaknya.
Penelitian ini dilakukan oleh Bett Educational, salah satu lembaga pendidikan di London, Inggris. Mereka melakukan survei kepada 2.000 orang tua di seluruh Inggris dengan anak usia 5 sampai 15 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, 70 persen orang tua mengatakan bahwa anak mereka senang ketika orang tuanya yang menyelesaikan PR mereka. Sepertiga orang tua juga mengakui bahwa anak mereka tidak memperhatikan dan berjalan-jalan ketika orang tua mencoba menyelesaikan PR.
Russell Hobby, sekretaris jedral dari National Association of Head Teachers, mengatakan bahwa sebagai orang tua, tentunya ia juga pernah membantu anaknya untuk mengerjakan PR. Namun ia memberikan penekanan pada perbedaan antara membantu anak mengerjakan PR dan mengerjakan PR anak.
"Mengerjakan PR anak bukanlah ide yang baik. Yang saya bingungkan adalah apa sebenarnya yang orang tua ingin buktikan? Mengapa mereka harus mengorbankan proses belajar anak hanya demi anak terlihat baik di depan guru dan teman sebayanya?" ungkap Hobby seperti dilansir Telegraph, Jumat (14/2/2014).
Faktanya, hasil penelitian mengungkapkan bahwa memang itulah alasan terbesar orang tua mengerjakan PR anak mereka. Hampir 40 persen mengatakan mereka merasa bangga jika anak mendapat nilai baik dengan bantuan orang tuanya. Sementara itu sekitar 29 persen mengaku ada rasa gengsi jika tidak mampu mengerjakan PR di depan anak mereka.
"Orang tua memang diharapkan membantu anak mengerjakan PR hingga tahap tertentu. Yang harus dipahami adalah jika Anda mengerjakan PR anak, Andalah yang mendapat manfaatnya. Bukan anak. Bukan tidak mungkin anak Anda dipermalukan di kelas akibat nilai PRnya bagus namun hasil tesnya jelek," pungkas Hobby.
(vit/vit)











































