Kisah Karlina Merawat Anak dengan Hemofilia

Kisah Karlina Merawat Anak dengan Hemofilia

M Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 17 Feb 2014 10:34 WIB
Kisah Karlina Merawat Anak dengan Hemofilia
Karlina dan Raditya/dok: Reza (detikHealth)
Jakarta -

Hemofilia adalah kondisi genetik dimana seseorang tidak mempunyai faktor pembeku darah pada darahnya. Hal ini menyebabkan orang tersebut dapat menderita pendarahan secara terus menerus bahkan tanpa sebab apapun. Hal ini terjadi pada seorang ibu yang anaknya didiagnosis mengidap hemofilia.

Karlina (44) adalah seorang ibu rumah tangga dari Serang, Banten. Ia mengaku sudah akrab dengan hemofilia. Sebab anaknya Raditya (10) terdiagnosis dengan penyakit tersebut ketika baru berusia 5 bulan.

"Waktu itu dari usia 3 bulan dia (Raditya-red) sering sekali sakit-sakitan. Tapi sering dibawa ke dokter cuma dokter gatau penyakitnya apa," paparnya memulai kisah ketika ditemui detikHealth pada acara Love Donation 2014 di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Senin (17/2/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama proses tersebut, Ia mengakui sudah menduga bahwa anaknya mengidap hemofilia. Namun pernyataan tersebut sering dibantah oleh dokter tempat ia memeriksakan anaknya. Karena tak kunjung mendapat diagnosis yang pasti, ia pun membawa Raditya ke RSCM untuk melakukan tes darah di laboratorium.

"Saya sudah curiga anak saya hemofilia karena saya sudah akrab. 5 anggota keluarga besar saya punya sejarah hemofilia, adik saya dua, ponakan dua dan anak saya," lanjut ibu yang yang tinggal di daerah Serang tersebut.

Dokter RSCM pun membenarkan bahwa Raditya mengidap hemofilia. Oleh karena itu, mereka menganjurkan transfusi darah rutin dan pemberian obat untuk anaknya. Ia mengaku tidak ada masalah dengan hal tersebut karena pada saat itu, suaminya masih bekerja di salah satu pabrik besar di Serang. Sehingga mendapat fasilitas asuransi kesehatan dari kantor.

Namun nahas, akibat pemutusan hubungan kerja, suaminya kini menganggur tanpa pekerjaan. Karlina pun akhirnya mengetahui bahwa biaya pengobatan anaknya sangatlah besar.

"Obat suntiknya itu kan harus diberikan 2 kali seminggu. Totalnya saya sebulan bisa habis 8 sampai 12 juta tergantung seberapa parah pendarahan Radit," ungkapnya sambil menahan air mata.

Ia mengaku sudah berjuang ke sana ke mari untuk mendapatkan bantuan. DPRD, dinas kesehatan daerah, dan dinas sosial diakuinya sudah pernah didatangi demi mendapat bantuan pengobatan untuk anaknya. Titit terang muncul pada akhir tahun 2011 lalu. Oleh Dinas Sosial Provinsi Banten, Karlina yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia ini mendapatkan kartu anggota Jamkesda. Pada awal 2014 lalu ia juga sudah memastikan diri terdaftar sebagai penerima bantuan insentif (PBI) dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Alhamdulillah Mas ada JKN. Biaya pengobatan anak saya sudah tertutupi walaupun tidak semua. Tapi saya tetap bersyukur," pungkasnya sembari membelai kepala Radit.




(up/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads