Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Iowa College of Medicine. Para peneliti mengambil data dari 84.595 anak yang disurvei oleh Agency for Healthcare Research and Quality dari tahun 1996 sampai 2008. Kunjungan yang di data adalah seluruh kunjungan anak ke rumah sakit termasuk ke poliklinik, unit gawat darurat dan juga pada jam besuk.
Hasil penelitian melaporkan bahwa anak yang akan memiliki risiko 3,2 persen lebih tinggi tertular infeksi seperti flu dan lain-lain sepulangnya dari rumah sakit. Angka tersebut memang terlihat kecil, namun peneliti mengatakan bahwa angka tersebut tidak boleh diremehkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kepala tim peneliti, Phil Polgreen, mengatakan bahwa penelitiannya tidak bisa diartikan dengan tidak lagi membawa anak untuk cek kesehatan di rumah sakit. Menurutnya, anak-anak tetaplah anak-anak, sehingga mereka tetap lebih rentan terserang infeksi seperti flu dan common cold dimanapun.
"Memang risiko tertular di rumah sakit sedikit lebih besar. Namun anak-anak tetap akan menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah atau taman bermain yang notabene mempunyai risiko penularan virus lain lebih besar," papar Polgreen.
Oleh sebab itu, ia mengatakan bahwa pihak rumah sakit sebagai agen pelayanan kesehatan harus memberikan perhatian yang lebih besar untuk mengurangi risiko tersebut. Hal itu dapat dilakukan dengan menyediakan petunjuk penularan infeksi dan pembekalan tentang infeksi menular kepada dokter, perawat dan pasien sendiri.
dr Anis Kurniawati, Sp. MK, ahli mikrobiologi FKUI mengatakan salah satu cara paling mudah untuk menghindari infeksi adalah dengan cara cuci tangan. Ia mengatakan bahwa cuci tangan yang baik seharusnya dilakukan selama 40-60 detik.
"Cuci tangan itu minimal selama 40-60 detik. Kalau hand rub saja menggunakan cairan antiseptik, minimal 20 detik. Nah, kebanyakan dari kita kalau cuci tangan hanya selama 10 detik! Padahal 20 atau 40 detik itu tujuannya memberi waktu bagi sabun atau antiseptik untuk kontak dengan bakteri, sehingga dapat 'membunuh' bakteri itu," ucap dr Anis.
(up/vit)











































