Calistung Bebani Anak? Ini Kata Ortu Bocah yang Biasa Baca 7-10 Buku Sehari

Calistung Bebani Anak? Ini Kata Ortu Bocah yang Biasa Baca 7-10 Buku Sehari

- detikHealth
Senin, 03 Mar 2014 17:26 WIB
Calistung Bebani Anak? Ini Kata Ortu Bocah yang Biasa Baca 7-10 Buku Sehari
Foto: dok, keluarga
Jakarta -

Leonny Margaret Ong (7) kemampuan membacanya sudah di atas rata-rata anak seusianya. Di Indonesia, mengajarkan anak usia TK membaca, menulis dan berhitung (calistung) masih menjadi polemik, antara membebani mental anak atau tidak. Ini kata orang tua Leonny.

"Menurut kami sebagai orang tua, harus ada keseimbangan. Antara belajar dan bermain. Kami ingin anak-anak kami mengejar keterampilan dasar. Cara pandang kami pertama, anak mesti memiliki skill dasar, harus punya, itu membaca dan berhitung," kata ayah Leonny, Leonard Ong (35) saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu seperti ditulus, Senin (3/3/2014).

Kedua, dia ingin anaknya memiliki keahlian pilihan dari aspek kesenian seperti musik atau yang lain. "Untuk ilmu-ilmu dasar diperlukan, juga waktu yang cukup untuk anak bermain. Bisa membaca untuk menambah pengetahuan mereka. Saya sendiri dari TK sampai kuliah di Jakarta. Perlu ada waktu lebih banyak bermain," tutur dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara ibu Leonny, Henny (29) mengatakan dirinya mengajar anaknya belajar membaca dengan fun. Bagaimana membentuk lingkungan di rumah itu menyenangkan dan mendukung, menyediakan buku tanpa merasa anak-anaknya belajar.

"Belajar itu nggak mesti sesuati yang 'kok susah sekali'. Belajar itu bisa fun. Sangat menyenangkan membaca buku bacaan yang gambarnya warna warni dan entertaining. Leonny tanpa saya suruh mengambil kertas putih, dia merangkum kata demi kata sambil mengeja, menulis dan itu menjadi hal yang menyenangkan," kata dia.

Di SD-nya, New Town Primary School, Singapura, Leonny juga sudah diajari berhitung dengan menyenangkan, sehingga tidak merasa putrinya belajar matematika.

"Mereka belajar dengan menyenangkan, seperti di kantin, disuruh menghitung ada berapa jenis makanan. Kalau belajar tentang berat, gurunya membawakan mainan berat dan ditaruh di air, barang apa yang mengambang dan apa saja yang tenggelam. Jadi tidak membosankan," tutur dia.

Bahkan, proporsi Leonny bermain dibanding belajar lebih banyak bermain. Selain jam sekolah, di luar sekolah Leonny bermain tiap pagi, siang, dan bermain musik sepekan sekali selama 30 menit.

"Jadi untuk belajar itu hanya sedikit sekali waktunya," tutur sang ayah, Leonard.

Pula di sekolah Leonny, ada pembagian kelas, di mana anak seperti Leonny yang sudah bisa membaca dikelompokkan sendiri, kemudian ada kelompok anak yang baru belajar membaca dan kelompok buat anak yang sama sekali tidak bisa membaca.

"Saya merasa anak-anak yang belum bisa membaca kasihan, kalau naik tingkat SD, ada tekanan untuk mampu membaca. Untuk Leonny, dia lebih cepat membaca dan menjadi anak yang paling baik di bahasa inggris. Jadi dia menjadi 'English Monitor' di kelas, membantu anak-anak lain yang mengalami kesulitan bahasa inggris," tuturnya.

Apakah kemampuan membaca itu juga berhubungan dengan tingkat IQ? "Kita nggak pernah tes IQ, normal saja nggak pernah di atas rata-rata. Dengan alat-alat yang baik anak-anak itu akan juga bisa mengikuti (pelajaran). Mungkin berpengaruh (IQ), namun punya proses dan pendekatan yang benar lebih penting," tandas Leonard.

(nwk/vit)

Berita Terkait