Nah, salah satu hal lain yang harus diwaspadai oleh ibu adalah soal berteriak pada anak. George Holden, profesor psikologi dari Southern Methodist University di Dallas, Amerika Serikat, mengatakan bahwa berteriak sekali-sekali memang terkadang dibutuhkan, namun jika terlalu sering dilakukan, hal ini akan memicu gangguan jiwa pada anak.
"Teriakan orang tua, terutama ibu, akan meningkatkan rasa cemas dan takut anak. Namun hal tersebut tidak akan membantu anak untuk belajar bagaimana seharusnya ia bersikap," papar Holden seperti dikutip dari Today, Kamis (6/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memanggil anak dengan julukan negatif pun sebaiknya tidak dilakukan. Meski sebagian besar tujuan orang tua melakukan hal tersebut untuk menyindir, Holden mengatakan hal itu dapat melukai harga diri anak, terutama remaja.
"Kata-kata 'dasar pemalas' atau 'dasar bodoh' memang terdengar sepele, namun anak akan benar-benar merasa bahwa diri mereka memang malas dan bodoh. Hal itu akan menghambat perkembangan psikologis mereka," papar Holden yang memang merupakan pakar di bidang hubungan anak dan orang tua.
Studi yang diterbitkan oleh Journal Child Development menyebutkan bahwa 45 persen ibu di Amerika menggunakan kata-kata kasar, berteriak dan menggunakan panggilan negatif pada anak mereka dengan umur 11-15 tahun. Namun hanya sebagian kecil yang melakukan hal tersebut pada anak usia dibawah 11 tahun.
Holden mengatakan kebiasan menggunakan kata-kata kasar, berteriak dan menggunakan panggilan negatif pada anak umumnya ditemukan pada ibu dengan anak remaja. Karena anak pada fase remaja mempunyai kecenderungan untuk lebih bebas dan tidak mendengarkan perkataan orang tua.
"Meski begitu, memukul atau berteriak bukanlah cara agar anak mendengarkan Anda. Ajak ia bicara dengan tenang, ditemani kue coklat atau es krim sehingga perasaannya lebih sabar dan tenang. Baru setelah itu utarakan apa yang ingin Anda sampaikan," pungkas Holden.
(vit/vit)











































