Ingin Segera Punya Momongan? Hindari Stres Sejak Sekarang

Ingin Segera Punya Momongan? Hindari Stres Sejak Sekarang

- detikHealth
Senin, 24 Mar 2014 17:46 WIB
Ingin Segera Punya Momongan? Hindari Stres Sejak Sekarang
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dibandingkan pria, wanita memang lebih sering merasakan stres. Padahal efek stres pada wanita juga cukup besar. Salah satunya bahkan dapat menyebabkan si wanita mandul atau kehamilannya tertunda.

Sebuah studi dari Amerika menemukan wanita yang tingkat stresnya tinggi berpeluang dua kali lebih besar untuk mengalami kemandulan jangka panjang. Tapi perlu diingat, ini bukan berarti wanita yang stres tidak bisa hamil sama sekali, mereka hanya susah untuk mendapatkannya.

Hal ini dibuktikan peneliti dari Ohio State University dengan mengamati 500 wanita yang berusia antara 18-40 tahun dan pernah bermasalah dengan kesuburan. Dengan mengambil sampel air liur dari 373 partisipan, peneliti mencoba melihat apakah ada sejumlah penanda biologis (biomarker) atau hormon yang berkaitan dengan stres dalam air liur mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata mereka yang dalam darahnya terkandung protein alpha-amylase (salah satu biomarker stres) dengan kadar tinggi berpeluang 29 persen lebih rendah untuk bisa mengandung. Selain itu, partisipan yang dilaporkan memiliki tingkat stres paling tinggi juga berpeluang dua kali lebih besar untuk dinyatakan mandul.

Kendati begitu salah satu peneliti Courtney Denning-Johnson Lynch, direktur divisi epidemiologi reproduksi dari Ohio State University mengatakan stres bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi kesuburan.

"Toh bila wanita merasa galau dengan masalah kesuburannya mereka bisa mencoba yoga, meditasi atau latihan lain yang sejenis untuk meredakan perasaan stresnya," saran Lynch seperti dikutip dari Medical Daily, Senin (24/3/2014).

"Setidaknya menghilangkan sumber stres dapat memperpendek jangka waktu yang dibutuhkan pasangan untuk mendapatkan momongan, daripada sekadar menghindarinya," timpal Germaine Buck Louis dari National Institute of Child Health and Human Development mengamini hasil studi Lynch dan rekan-rekannya.

(lil/vit)

Berita Terkait