Rabu, 02 Apr 2014 16:46 WIB

Anak Tuli atau Katarak karena TORCH, Apa Saja yang Bisa Dilakukan Ortu?

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Getty Images) Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Yogyakarta - Infeksi TORCH memang kasat mata, penderitanya pun tidak memperlihatkan gejala tertentu. Tapi bila sudah mengenai ibu hamil, maka si janinlah yang akan merasakan akibat pahitnya misal anak tumbuh dalam keadaan tuli sebagian atau katarak. Lalu orang tua bisa berbuat apa?

Kelainan bawaan yang kerapkali ditemukan pada bayi pembawa infeksi TORCH atau Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus (HSV) antara lain tuli atau gangguan pendengaran, baik di salah satu sisi telinga maupun keduanya, termasuk gangguan motorik; katarak; dan penyakit jantung bawaan (PJB).

"Untuk gangguan pendengaran masalahnya anak tak bisa mengutarakan dan orang tua yang tidak menyadari (gangguan pendengaran pada anaknya). Biasanya kalau di kita ada juga budaya menunggu, tunggulah sampai si anak kelihatan gejalanya," tutur dr Mahatma S. Bawono, Sp.THT-KL., M.Sc., dalam Seminar Sehari 'Yuk Kenali Ciri-ciri Gangguan TORCH pada Anak' di RS Akademik UGM Yogyakarta dan ditulis Rabu (2/4/2014). Seminar ini terselenggara berkat kerjasama RS Akademik UGM dan komunitas Rumah Ramah Rubella.

Padahal menurut dokter spesialis THT dari RS Akademik UGM tersebut, kemampuan mendengar pada anak berperan penting dalam proses belajar bicara dan berkomunikasi anak.

"Anda bisa mendiagnosisnya sendiri, melihat respons anak terhadap suara-suara di sekitarnya, atau perilakunya, kemampuan bicaranya, atau apakah anak mengerti perintah sederhana sesuai dengan usianya. Misal anak dari belakang diklakson, kalau dia nengok itu berarti responsnya bagus. Kalau dia diam saja, Anda perlu curiga," paparnya.

Bila muncul gejala seperti itu, dokter yang akrab disapa dengan dr Boni tersebut menyarankan untuk skrining pendengaran sebelum anak berusia sebulan. Kemudian menjelang usia tiga bulan, kemampuan pendengaran anak dievaluasi kembali dan jika ditemukan adanya gangguan, intervensi sebaiknya dilakukan sebelum usia anak mencapai enam bulan.

"Tes pendengaran awal pada bayi bisa dengan OAI. Kalau ingin spesifik, bisa kemudian dilakukan pengecekan saraf telinga, misal dengan tes ASSR. Biayanya berkisar Rp 800 - 1,5 juta, namun ini belum ditanggung BPJS. Rumah sakit yang menyediakan tes ini biasanya beli alatnya sendiri sehingga jatuhnya mahal," keluhnya.

Akan tetapi jika anak sudah terlahir dalam keadaan tuli karena sang ibu ternyata tertular virus TORCH saat hamil, orang tua tak perlu panik. Ada banyak penanganan, bisa dengan pemberian obat, operasi misal pemasangan implan koklea, terapi wicara dan penggunaan ABD (alat bantu dengar).

Menurut dr Boni, kendalanya ada pada biaya. "Di Indonesia, anak yang mengalami gangguan pendengaran karena TORCH lebih banyak diberi terapi wicara karena pertimbangan biaya. ABD yang digunakan pun kadang tidak terjangkau karena sebagian masih harus impor. Untuk terapi wicara, sekali datang biasanya Rp 30-50 ribu, dan untuk rumah sakit tertentu di Yogyakarta sudah ditanggung Jamkesda," jelasnya.

Sedangkan untuk gangguan penglihatan pada anak yang tertular infeksi TORCH dari ibunya, dr Eva Revana, Sp.M., M.Sc. menerangkan rubella atau campak jerman paling sering menyebabkan katarak, sedangkan CMV memicu terjadinya gangguan retina. "(Bayi yang terkena rubella) waktu lahir, ada putih-putih di tengah bola mata. Tapi kalau ringan biasanya tidak tampak atau baru muncul ketika dewasa," sambungnya.

Kolega dr Boni di RS Akademik UGM itu mengatakan bila rubella sudah terdeteksi sejak dini, ketika lahir bayi bisa langsung dioperasi, terutama jika hanya salah satu mata saja yang terkena katarak.

"Namun tidak menutup kemungkinan setelah operasi, katarak masih bisa datang lagi. Nantinya akan ada operasi kedua atau ketiga, biasanya menyangkut komplikasi pada pemasangan lensa buatan, tergantung respons mata anak setelah operasi pertama," katanya.



(lil/vit)