Rabu, 02 Apr 2014 20:01 WIB

Ibu Kecolongan, Gendis Tumbuh dengan Gangguan Pendengaran karena Rubella

- detikHealth
Nuril (Foto: Lila/detikHealth) Nuril (Foto: Lila/detikHealth)
Jakarta - Nuril mengaku kecolongan ketika tahu putri pertamanya didiagnosis mengidap rubella. Padahal ia sudah melakukan premarital check up, termasuk skrining untuk infeksi TORCH. Hanya karena tak ditindaklanjuti, Gendis pun lahir dengan gangguan pendengaran.

"Jadi dua minggu sebelum saya tes USG, itu saya ketularan campak dari teman. Pas sudah sembuh kok saya telat, duh, itu kehamilan sudah lima minggu," kisah Nuril saat ditemui detikHealth usai Seminar Sehari 'Yuk Kenali Ciri-ciri Gangguan TORCH pada Anak' di RS Akademik UGM Yogyakarta dan ditulis Rabu (2/4/2014).

"Saya sudah tahu sih sebenarnya kalo campak jerman ini bisa akibatnya fatal ke baby. Untuk itu saya ngarepinnya sih jangan hamil dulu deh, tapi ternyata positif. Habis itu cek darah ternyata virusnya sudah aktif karena antibodi IgM-nya positif," lanjutnya.

TORCH bukan hal baru di telinga wanita bernama lengkap Wistyadji Nuriliawati tersebut, apalagi Nuril merupakan seorang sarjana di bidang biologi. Itulah mengapa sebelum menikah Nuril menyempatkan diri untuk menjalani premarital check-up.

"Tapi kita kecolongannya pada pembacaan hasil karena tidak dikonsultasikan pada dokter dan tidak ditindaklanjuti dengan imunisasi MMR. Kalau misalnya dulu aku langsung imunisasi, mau ada temennya yang kena campak atau apa ya gak ketularan," sesalnya kemudian.

Beruntung memasuki usia 21 bulan, Gendis sudah bisa berjalan meski ada sedikit keterlambatan bila dibandingkan anak seusianya. Kondisi ini cukup menggembirakan mengingat Gendis terdeteksi campak jerman lebih dini. "Tapi dia masih terapi wicara karena dia kan tuna rungu. Kelainan lainnya, kepalanya kecil (mikrosefali), beratnya susah naik jadi hampir dua tahun ini beratnya baru 7 kg, sama jantungnya bocor," papar Nuril.

Lalu berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk mengobati Gendis? "Fisioterapi dan terapi wicara itu 90 ribu perminggu, belum ditambah obatnya perbulan 300 ribu sama kontrol, jadi hampir satu juta untuk setiap bulannya," katanya.

Belum lagi untuk membeli ABD (alat bantu dengar). Nuril mengungkap satu buah ABD harganya setara dengan harga satu motor baru (sekitar Rp 17 juta). ABD untuk Gendis sendiri dibeli Nuril di Jakarta. Seluruh proses pengobatan dilakukan di RS Akademik UGM dan klinik Prof dr Sunartini Hapsara, SpA (K), Ph.D. di Kotagede. Kebetulan dengan terapis yang bekerja di klinik tersebut juga ada di RSA dan baik Gendis maupun ibunya mengaku sudah cocok dengan terapisnya.

"Rencananya kita juga mau kateter jantung (menutup jantung Gendis yang bocor), tapi biayanya sekitar Rp 40 juta," imbuh wanita berkacamata tersebut.

Hanya saja selama ini sempat mengeluhkan bila selama merawat Gendis kadang lingkungan di sekitarnya belum bisa menerima keadaan si kecil. "Misal ada perkembangan kecil, dia bisa ngomong 'am' buat kita udah senang banget, tapi orang kadang 'opo sih iki bocah ko durung iso ngomong'. Selain itu ada juga keuangan, ya walaupun sebagai orang tua kita pasti mengusahakan ya," tuturnya.

Namun yang menjadi harapan Nuril adalah pendidikan Gendis di masa depan. Kendati ada SLB, tak dipungkiri Nuril ingin ada realisasi dari wacana Perda Gubernur DIY No 4 Tahun 2012 yang mencanangkan jika semua sekolah di Yogyakarta akan dibuat menjadi sekolah inklusi sehingga anak berkebutuhan khusus yang tak terganggu kognitifnya masih bisa mengikuti kelas biasa, misal dengan diberi guru pendamping.

"Harapannya moga pas dia besok sudah gede, mungkin nggak ya ini diaplikasikan," tutupnya.

"Untuk wilayah Jogja sendiri angka penderita rubella positif sudah lebih dari 70 persen. Awalnya ini dikira campak biasa, padahal coverage imunisasi campak di Jogja telah mencapai 95 persen. Ini artinya TORCH tak boleh diremehkan," tegas Prof dr Sunartini Hapsara, Sp. A(K), Ph.D.

(lil/vit)