Menanggapi hal ini, psikolog Dr Adriana Ginanjar MS mengatakan orang tua harus mensupport dan mengajari anak agar mereka bisa melindungi diri sendiri. Pihak sekolah pun harus ikut andil untuk mencegah terjadinya bullying termasuk pada remaja SA.
"Sekolah yang siap menerima remaja SA harus konsekuen dengan menyediakan pelatihan agar guru dan stafnya lebih peka pada bullying," tutur wanita yang kerap disapa Ina ini di tengah-tengah Seminar 'Memperjuangkan Advokasi Penyandang Autisme di Indonesia' di Kantor Kemenkes, Jl.HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (14/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak sekolah juga harus melibatkan murid lainnya sehingga saat dia tahu ada tindakan bullying langsung dilaporkan ke guru. "Bagi orang tua jika ada anak mengeluh dengarkan, jangan disepelekan, secara emosional itu sudah membantu," ujar Ina.
Jika orang tua ingin membicarakan masalah itu dengan pihak sekolah, lakukanlah pendekatan lebih baik. Tapi, ketika kasusnya dinilai sudah parah misalnya bullying sampai mendorong anak untuk bunuh diri, Ina menyarankan orang tua untuk segera berkonsultasi dengan psikolog.
"Remaja SA bisa menjadi individu yang lebih baik kalau orang tua dan lingkungan bisa menerima dia dengan keunikannya. Tapi kalau dia nggak bisa diterima, kondisi emosionalnya justru nggak baik," kata Ina.
Salah satu cara membuat anak sadar akan keunikannya yang bisa diterima oleh keluarga dan masyarakat yakni orang tua mengajak si anak berpartisipasi berbagai kegiatan untuk berkumpul dengan penyandang autisme sejak kecil.
"Sehingga mereka tahu dirinya berbeda. Saat menjalani terapi pun didampingi orang tuanya sehingga mereka bisa lebih menerima jika selain memiliki kelebihan, ia juga mempunyai kekurangan," tambah Ina.
(rdn/vta)










































