Ingin Beri ASI Lagi Setelah Disetop? Yuk Coba Relaktasi di Rumah Menyusui

Ingin Beri ASI Lagi Setelah Disetop? Yuk Coba Relaktasi di Rumah Menyusui

- detikHealth
Senin, 21 Apr 2014 19:20 WIB
Ingin Beri ASI Lagi Setelah Disetop? Yuk Coba Relaktasi di Rumah Menyusui
'Rumah Menyusui' di RS Budi Kemuliaan Jakarta (Foto: Ajeng/detikHealth)
Jakarta - Beberapa penyebab kerap menjadi alasan mengapa seorang ibu tak bisa memberikan air susu ibu (ASI) sama sekali pada bayinya. Jika Anda salah satunya, Anda bisa 'memperbaiki' pengoptimalan pemberian ASI melalui proses relaktasi, lho. Apa itu?

Relaktasi merupakan proses menyusu 'ulang', misalnya sebelumnya ibu tak pernah memberikan ASI pada bayi hingga ia berusia hingga 3 bulan, kemudian ibu berpikir untuk menyusui kembali. Ini tentu memerlukan proses adaptasi baru pada bayi maupun ibu. Bayi harus membiasakan diri menyusu melalui payudara, sementara ibu juga harus menerapkan pola hidup sehat agar produksi ASI lancar.

Proses relaktasi ini harus dilakukan secara bertahap dan mungkin tidak akan langsung berhasil, dalam hal ini berarti bayi bisa langsung mau menyusu dan ASI bisa langsung diproduksi dalam jumlah banyak. Namun jika ibu dan ayah sudah sama-sama berkomitmen, proses relaktasi bisa berjalan dengan lancar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prinsipnya, ketika seorang bayi sudah lama tidak menyusu, tentu akan marah jika disusui tapi nggak ada ASI-nya. Nah, dalam proses relaktasi hal ini diakali dengan menggunakan selang NGT (Nasogastric Tube -red-) yang diisi ASI perah. Jadi bayi tetap menyusu dari payudara tapi dialirkan ASI perah melalui selang NGT yang disempilkan," ungkap salah satu konselor 'Rumah Menyusui' RS Budi Kemuliaan Jakarta, dr Hikmah Kurniasari, MKM.

Hal tersebut ia sampaikan kepada detikHealth di sela-sela acara peresmian 'Rumah Menyusui' yang diselenggarakan di RS Budi Kemuliaan, Jl Budi Kemuliaan, Jakarta, Senin (21/4/2014).

Dokter yang juga tergabung dalam keanggotaan Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) ini menyebutkan bahwa trik ini akan membuat bayi tak marah, sebab ia tetap menghisap payudara dan menstimulasi hormon prolaktin untuk produksi ASI pada ibu.

"Jadi pertama dilakukan skin to skin dulu, yaitu perlekatan kulit bayi dan ibu. Ini supaya terjadi ikatan atau bonding lagi antara keduanya. Kedua, ibu dilatih memerah untuk meningkatkan produksi ASI, terutama saat bayi sedang tidur, untuk merangsang produksi ASI melalui hormon prolaktin. Intinya, makin sering dihisap, makin banyak produksi ASI-nya," terang dr Hikmah.

Jarak bayi tak diberikan ASI hingga ibu memutuskan melakukan relaktasi juga menjadi salah satu faktor penting. Jika jaraknya sekitar 1 pekan sampai dengan 1 bulan, proses keberhasilannya bisa menjadi lebih cepat. Sebaliknya, jika jaraknya sudah mencapai 3 bulan, mungkin proses keberhasilannya akan menjadi lebih lama.

(ajg/vta)

Berita Terkait