Relaktasi merupakan proses menyusu 'ulang', misalnya sebelumnya ibu tak pernah memberikan ASI pada bayi hingga ia berusia hingga 3 bulan, kemudian ibu berpikir untuk menyusui kembali. Ini tentu memerlukan proses adaptasi baru pada bayi maupun ibu. Bayi harus membiasakan diri menyusu melalui payudara, sementara ibu juga harus menerapkan pola hidup sehat agar produksi ASI lancar.
Proses relaktasi ini harus dilakukan secara bertahap dan mungkin tidak akan langsung berhasil, dalam hal ini berarti bayi bisa langsung mau menyusu dan ASI bisa langsung diproduksi dalam jumlah banyak. Namun jika ibu dan ayah sudah sama-sama berkomitmen, proses relaktasi bisa berjalan dengan lancar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut ia sampaikan kepada detikHealth di sela-sela acara peresmian 'Rumah Menyusui' yang diselenggarakan di RS Budi Kemuliaan, Jl Budi Kemuliaan, Jakarta, Senin (21/4/2014).
Dokter yang juga tergabung dalam keanggotaan Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) ini menyebutkan bahwa trik ini akan membuat bayi tak marah, sebab ia tetap menghisap payudara dan menstimulasi hormon prolaktin untuk produksi ASI pada ibu.
"Jadi pertama dilakukan skin to skin dulu, yaitu perlekatan kulit bayi dan ibu. Ini supaya terjadi ikatan atau bonding lagi antara keduanya. Kedua, ibu dilatih memerah untuk meningkatkan produksi ASI, terutama saat bayi sedang tidur, untuk merangsang produksi ASI melalui hormon prolaktin. Intinya, makin sering dihisap, makin banyak produksi ASI-nya," terang dr Hikmah.
Jarak bayi tak diberikan ASI hingga ibu memutuskan melakukan relaktasi juga menjadi salah satu faktor penting. Jika jaraknya sekitar 1 pekan sampai dengan 1 bulan, proses keberhasilannya bisa menjadi lebih cepat. Sebaliknya, jika jaraknya sudah mencapai 3 bulan, mungkin proses keberhasilannya akan menjadi lebih lama.
(ajg/vta)











































