Tega! Para Ibu Ini Tega Bunuh Buah Hatinya Sendiri

Tega! Para Ibu Ini Tega Bunuh Buah Hatinya Sendiri

- detikHealth
Rabu, 23 Apr 2014 10:00 WIB
Tega! Para Ibu Ini Tega Bunuh Buah Hatinya Sendiri
Megan Huntsman/Foto: CNN
Jakarta - Seorang ibu seharusnya menyayangi buah hati dengan sepenuh hati. Namun, ada juga ibu yang tega membunuh anaknya sendiri. Faktanya, menurut seorang pakar kejiwaan di Ohio, hal kejam ini telah ada sejak lama dan bahkan dikisahkan dalam mitologi.

"Boleh jadi, salah satu dongeng paling terkenal (tentang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri), datang dari Yunani, tentang Medea, seorang wanita yang tega membunuh putranya sendiri untuk menghukum suaminya yang berselingkuh." Demikian menurut anggapan Dr Sara G. West, MD, asisten profesor psikiatri di Case Western Reserve University School of Medicine.

Pada tahun 2001, seorang wanita bernama Andrea Yates ditahan karena membunuh lima anaknya dengan menenggelamkan mereka ke dalam bak mandi. Menurut penyelidikan, wanita itu rupanya memiliki riwayat sakit mental yang semakin parah setelah melahirkan. Ia akhirnya dinyatakan tidak bersalah karena dianggap gila dan dikirim ke rumah sakit jiwa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus lain yang terjadi baru-baru ini, dilakukan oleh seorang wanita Utah bernama Megan Huntsman. Wanita itu mengaku mencekik setidaknya enam dari seluruh bayinya dalam periode 10 tahun sejak tahun 1996. Mayat bayi-bayi itu ia tempatkan di dalam beberapa kotak di garasinya.

Terdengar kejam? Faktanya, ada lebih banyak kasus pembunuhan anak yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Di Amerika, di antara tahun 1980 dan 2008, sebanyak dua per tiga anak usia 5 tahun yang meninggal terbunuh, ternyata dibunuh oleh orang tua mereka sendiri. Tepatnya, 33 persen dibunuh oleh sang ayah dan 30 persen oleh ibunya.

Menyoal kasus semacam ini, West mengatakan bahwa penyebabnya sangat beragam. Di antaranya adalah ketidakpuasan atas jenis kelamin anak, cacat pada anak, ayah yang tak jelas, serta ketiadaan biaya untuk membesarkan anak

"Alasannya mungkin termasuk ketidakpuasan atas gender anak, atau disabilitas, atau ayah yang tak jelas, serta kekurangan sumber daya untuk merawat anak," terangnya seperti dikutip dari CNN pada Rabu (23/4/2014).

West juga mengatakan bahwa terdapat perbedaaan pola pembunuhan anak yang dilakukan oleh ayah dan ibu. Seorang ayah cenderung membunuh lebih dari satu orang, termasuk anak-anak lain dan pasangannya. Mereka juga lebih mungkin bunuh diri setelah pembunuhan usai dilakukan.

(vta/vta)

Berita Terkait