“Kalau menurut penelitian, aktivitas otak ketika kita menonton televisi itu berkebalikan dengan aktivitas otak ketika kita belajar,“ terang Eka K. Hikmat, S.Psi, Terapis Auditory Verbal (AV) dari Yayasan Rumah Siput Indonesia.
Pernyataan tersebut didukung oleh sebuah penelitan di Amerika yang dilakukan oleh Rebekah A. Richert, Ph.D dan rekan-rekannya dari University of California. Mereka menemukan bahwa video pendidikan tidak terbukti dapat meningkatkan kemampuan bahasa pada anak di bawah dua tahun. Sebaliknya, anak yang menonton video pada usia terlalu dini justru memiliki skor lebih rendah dalam pengetahuan kosakata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Biasanya anak-anak yang lebih sering menonton televisi, video, atau semacamnya, nantinya mereka cenderung tidak aktif,“ terang Eka, yang merupakan alumnus Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (2/5/2014).
Untuk mengembangkan kemampuan verbal buah hati, orang tua harus sering mengajak mengobrol. Sebab menurut penelitian oleh Betty Hart dan Todd R. Risley, kemampuan anak dalam berbahasa telah terbentuk jauh sebelum anak memasuki masa prasekolah. Tinggi rendahnya kemampuan tersebut dipengaruhi oleh paparan kata dari orang tua. Anak yang banyak diajak mengobrol memiliki kemampuan verbal yang lebih baik.
Selain melalui percakapan, anak juga dapat mengembangkan kemampuan berbahasa melalui pelajaran di sekolah, interaksi dengan teman-teman sebaya, dan kegiatan membaca buku. Membaca buku, kata Eka, memegang peranan yang sangat penting. Sebab buku memberikan kosakata yang tidak didapat anak dari percakapan sehari-hari.
(vit/vit)











































