"Sampai saat ini penyebab pasti gangguan ini belum diketahui. Teori-teori yang berkembang saat ini menyatakan gangguan spektrum autisme merupakan gangguan pada perkembangan otak," ujar dr Ika Widyawati, SpKJ(K), dalam konferensi pers Autisme Awareness Month yang diselenggarakan di Departemen Psikiatri RSCM/FKUI, Jl Kimia, Jakarta, Rabu (21/5/2015).
Salah satu penelitian menyebutkan bahwa faktor genetik dalam gangguan autisme bersifat heterogen, kompleks dan pada sebagian besar kasus masih sulit dipahami. Meskipun dalam penelitian ini risiko genetik dikatakan mencapai 90 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dr Ika, sebelumnya memang pernah disebutkan bahwa jumlah anak dengan autisme yang berada di area pertambangan lebih banyak dibandingkan area lain. Namun meskipun begitu belum tentu penyebabnya adalah logam berat.
"Tapi kan tidak semua anak yang ada di area tersebut menyandang autisme, ada yang tidak. Berarti mungkin ini akibat kerentanan genetik, jadi ada paparan sedikit langsung jadi autisme. Yang pasti seluruh faktor-faktor tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan belum terbukti secara evidence-based medicine," lanjutnya.
Hal serupa juga dijelaskan oleh Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ(K). Dalam kesempatan yang sama, kepada detikHealth Dr Tjhin menyebutkan bahwa pembuktian teori tersebut masih jarang ada sehingga sulit untuk dipastikan. "Ini epigenetik, mungkin pada dasarnya anak dengan autisme tersebut punya bawaan gentik tertentu, sehingga lebih rentan dibandingkan anak yang lain," pungkas staf Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Psikiatri RSCM/FKUI ini.
(ajg/up)










































