Paparan Logam Berat Bikin Anak Berisiko Autisme? Ini Kata Dokter

Paparan Logam Berat Bikin Anak Berisiko Autisme? Ini Kata Dokter

- detikHealth
Rabu, 21 Mei 2014 16:31 WIB
Paparan Logam Berat Bikin Anak Berisiko Autisme? Ini Kata Dokter
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Informasi yang banyak beredar tentang kesehatan anak saat ini seringkali membuat orang tua bingung. Salah satunya adalah informasi mengenai risiko-risiko penyebab autisme. Meskipun belum bisa dipastikan, banyak orang tua percaya paparan logam berat saat hamil berisiko membuat anak terkena autisme.

"Sampai saat ini penyebab pasti gangguan ini belum diketahui. Teori-teori yang berkembang saat ini menyatakan gangguan spektrum autisme merupakan gangguan pada perkembangan otak," ujar dr Ika Widyawati, SpKJ(K), dalam konferensi pers Autisme Awareness Month yang diselenggarakan di Departemen Psikiatri RSCM/FKUI, Jl Kimia, Jakarta, Rabu (21/5/2015).

Salah satu penelitian menyebutkan bahwa faktor genetik dalam gangguan autisme bersifat heterogen, kompleks dan pada sebagian besar kasus masih sulit dipahami. Meskipun dalam penelitian ini risiko genetik dikatakan mencapai 90 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Faktor-faktor lingkungan juga sering dikatakan mempunyai hubungan dengan penyebab gangguan spektrum autisme, seperti logam-logam berat seperti merkuri dan nikel," papar Ketua Seksi Psikiatri Anak dan Remaja, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) tersebut.

Menurut dr Ika, sebelumnya memang pernah disebutkan bahwa jumlah anak dengan autisme yang berada di area pertambangan lebih banyak dibandingkan area lain. Namun meskipun begitu belum tentu penyebabnya adalah logam berat.

"Tapi kan tidak semua anak yang ada di area tersebut menyandang autisme, ada yang tidak. Berarti mungkin ini akibat kerentanan genetik, jadi ada paparan sedikit langsung jadi autisme. Yang pasti seluruh faktor-faktor tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan belum terbukti secara evidence-based medicine," lanjutnya.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ(K). Dalam kesempatan yang sama, kepada detikHealth Dr Tjhin menyebutkan bahwa pembuktian teori tersebut masih jarang ada sehingga sulit untuk dipastikan. "Ini epigenetik, mungkin pada dasarnya anak dengan autisme tersebut punya bawaan gentik tertentu, sehingga lebih rentan dibandingkan anak yang lain," pungkas staf Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Psikiatri RSCM/FKUI ini.

(ajg/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads