Psikolog: Begini Caranya Memuji Tanpa Bikin Anak Jumawa

Psikolog: Begini Caranya Memuji Tanpa Bikin Anak Jumawa

- detikHealth
Kamis, 05 Jun 2014 19:30 WIB
Psikolog: Begini Caranya Memuji Tanpa Bikin Anak Jumawa
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Yogyakarta - Pentingnya apresiasi bagi tumbuh kembang anak mungkin belum banyak diketahui, apalagi diberikan oleh orang tua pada anak. Padahal ini dapat mempengaruhi rasa percaya diri yang dimilikinya kelak. Caranya beragam, bisa lewat pujian, pelukan ataupun quality time.

"Untuk anak yang usianya masih di bawah lima tahun, apresiasi ini harus diberikan sesegera mungkin atau saat itu juga. Dan pastikan untuk memberikan apresiasi sesuai dengan perbuatannya, jangan sifatnya," tandas psikolog Rosdiana Setyaningrum, M.Psi., MHPed.

Hal ini disampaikan Rosdiana dalam acara 'Pentingnya Merayakan Momen Wow untuk Tahap Tumbuh Kembang si Kecil' yang digelar Frisian Flag di Balai Pamungkas, Yogyakarta, Kamis (5/6/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa begitu? Psikolog yang akrab dipanggil Diana tersebut mengatakan orang tua tak boleh membiasakan memuji anak dengan mengacu pada sifat tertentu seperti 'Kamu cantik ya' atau 'Kamu pinter ya'.

Hal ini akan mendorong anak untuk berpikir bahwasanya ia adalah seorang anak yang cantik atau ganteng, dengan kata lain hanya mementingkan penampilan fisik semata. Begitu juga bila anak sering dipuji pintar, anak bisa merasa tak perlu belajar lagi karena sudah bisa atau pintar. Lantas bagaimana memuji anak yang benar?

"Yang bener mujinya begini, 'Cantik ya jam segini udah mandi', 'Pinter ya PR-nya sudah selesai', atau 'Pinter ya menulisnya rapi'. Jadi harus ada tingkah lakunya, supaya dia tahu yang bagus itu apanya, yang tidak kita suka itu apanya. Ini yang penting," tegas Diana.

Memberi pujian maupun apresiasi kepada anak sendiri memiliki banyak manfaat. Salah satunya, mencegah anak jadi nakal.

"Anak bisa nakal karena dua hal, dicap nakal oleh orang tuanya dan cap itu terbawa hingga dewasa. 'Jadi boleh dong berbuat nakal, orang tua saya aja bilang saya nakal kok' atau karena 'Momen Wow' anak dianggap biasa saja oleh orang tuanya, tidak mendapatkan apresiasi lalu kita malah anggap anak nakal," terang ibu dua anak itu.

Padahal sejatinya yang dibutuhkan anak hanya perhatian. Dengan diperhatikan dan diapresiasi, anak jadi merasa berharga (self-worth), kemudian perasaan berharga ini membuat si anak memandang dirinya positif (self-esteem) sehingga anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi (self-confident).

Bahkan ibu pun merasakan manfaat dari merayakan Momen Wow anak. Diana memaparkan hasil penelitian mengatakan bahwa ibu mengalami stres paling besar ketika usia anaknya mencapai 4 tahun.

"Mengapa tidak bahagia? Dimulai dari setelah melahirkan, hormonnya kan tidak seimbang. Belum lagi saat anak memasuki usia 1-3 tahun, mereka minta diperhatikan terus, nangis, rewel terus, lari-lari. Jadi kita perlu membahagiakan diri sendiri. Salah satu cara paling mudah, merayakan atau mengapresiasi hal-hal kecil bersama dengan anak atau Momen Wow tadi," tambahnya.

Apalagi Diana mengingatkan para ibu harus bahagia karena ini menjadi indikator kebahagiaan keluarga. Anak pun jadi belajar mengapresiasi hal-hal kecil agar ikut bahagia juga. Anak yang bahagia inilah yang berpotensi untuk sukses.



(lil/up)

Berita Terkait