Namun pemandangan berbeda terlihat di kantin Charnwood-Dunlop School di Canberra, Australia. Kantin tersebut penuh satu jam bahkan sebelum pelajaran dimulai. Uniknya, kantin tersebut penuh bukan karena murid-murid ingin jajan, namun mereka malah sibuk membaca.
"Di rumah kami tidak akan bisa melakukan hal ini. Anak-anak akan bermain video game, atau keluar bersama teman-temannya. Maka dari aku sangat senang kantin ini memberik waktu lebih bersama anak-anak dan membuat kemampuan membaca mereka meningkat di waktu bersamaan," tutur Elizabeth Hickey, salah satu orang tua murid.
Keberadaan kantin yang disulap menjadi kafe membaca tersebut memang membawa pengaruh baik kepada murid dan orang tua murid di Charnwood-Dunlop School. Sebabnya, orang tua menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak untuk kegiatan yang bermanfaat.
Eleanor Lightfoot (6), salah satu murid di sekolah tersebut nampak asyik membaca meski di hidungnya terdapat secuil madu. Rupanya madu tersebut berasal dari roti bakar yang dimakannnya untuk sarapan. Ayahnya, Michael Lightfoot, hanya bisa tertawa mendengar pengakuan putrinya tersebut.
Michael mengatakan bahwa keberadaaan kantin tersebut sangat bermanfaat untuk menambah kedekatan ia dan putrinya. Menurutnya, memang seharusnya anak-anak lebih disemangati untuk urusan membaca.
"Kami semakin sering bersama. Dia (Eleanor) membaca di rumah, di sini dan di dalam kelas. Aku sangat senang," tutur Michael kepada ABC Australia dan dilansir detikHealth, Senin (9/6/2014).
Sementara itu, Kepala Sekolah Charnwood-Dunlop School, Debbie Martens mengatakan bahwa adanya kantin membaca yang diberi nama ABC Cafe atau Active Brain Cafe merupakan inisiatif sekolah yang langsung disambut baik oleh relawan dari berbagai kalangan.
"Para orang tua murid, guru, hingga kakek nenek dan mantan guru serta alumni sekolah ini bahu membahu agar kafe ini tercipta dengan baik," tutur Martens.
Dikatakannya bahwa kantin ini sudah memasuki 3 semester, dengan hasil yang maksimal. Menurut Martens, kantin ini tidak hanya menambah waktu membaca untuk anak, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri anak untuk membaca, selain meningkatkan kemampuan membaca anak itu sendiri.
"Mereka (murid) masuk dan berpikir 'oh, saya bisa membaca!' dan itu membuat mereka akan semakin menyukai membaca. Para guru juga mengakui ada peningkatan kemampuan baca yang signifikan," terang Martens lagi.
(up/up)











































