Selasa, 24 Jun 2014 15:36 WIB

Kurangnya Tenaga Medis Pengaruhi Angka Kematian Ibu dan Bayi

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bappenas, evaluasi paruh waktu indikator kesehatan nasional 2010-2014 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Angka Kematian Ibu (AKI) meningkat dari 228 per 100.000 kelahiran hidup (Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia atau SDKI, 2007) menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2010). Angka Kematian Bayi (AKB) hanya menurun sedikit dari 34 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2010) menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012).

Ketua Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Fasli Jalal mengatakan bahwa permasalahan tingkat kematian bayi dan ibu tinggi karena perhatian pemerintah akan kesehatan remaja kurang.

"Tidak bisa hanya melihat dari saat kehamilan dan melahirkan. Harus diperhatikan juga mulai dari kesehatan remaja. Mulai dari remaja kemudian calon pengantin, rencana memiliki anak, hingga merawat anak. Sedangkan 48 persen remaja kita kurang gizi," kata Fasli Jalal ditemui pada acara diskusi publik di merDesa Institute Jakarta, Selasa (24/6/2014).

Hal serupa juga dikatakan oleh dr Imam Rosyidi selaku Ketua Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama. Ditemui di acara yang sama, ia mengatakan bahwa kematian ibu di Indonesia merupakan angka kematian terbesar di Asia Tenggara.

Imam mengatakan bahwa diperlukan sebuah revolusi di bidang kesehatan ibu dan anak. Program Keluarga Berencana (KB) perlu direvitalisasi dan harus dijalankan kembali.

Selain itu masalah seperti kurangnya tenaga medis di desa dikatakan oleh Imam turut berkontribusi terhadap tingginya angka kematian bayi dan ibu.

"Dokter juga harus kembali ke daerah miskin perbatasan dan perlu ditulis dalam suatu peraturan. Di Jakarta ada ratusan dokter tapi di NTT harus sampai mengundang dokter dari luar," tutup Imam.

(up/up)