"Vaksin, seperti pengobatan lainnya, tidak 100 persen bebas risiko," kata Dr. Ari Brown seperti dikutip dari CNN, Rabu (2/7/2014).
Beberapa orang tua masih ragu untuk memberikan vaksin kepada anaknya dan sering menunda pemberian vaksin. Menurut Brown, dengan menunda memberikan vaksin pada anak sama saja dengan membuatnya berisiko terserang penyakit.
Para ahli mengatakan bahwa vaksin memiliki lebih banyak efek positif dari pada negatif. Karena dengan adanya vaksin, banyak penyakit yang melanda anak-anak selama berabad-abad dapat dihilangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data, jutaan warga Amerika dapat hidup 30 tahun lebih lama karena adanya perlindungan dari vaksin. Dalam kurun waktu 100 tahun, kematian bayi pun menurun dari 100 kematian per 1000 kelahiran menjadi 7 kematian per 1000 kelahiran. Begitu juga dengan penyakit cacar dan diphteria yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin.
Namun tidak sedikit yang mengatakan bahwa vaksin dapat membuat anak terkena leukemia bahkan autis. Setelah adanya beberapa fakta-fakta yang kuat, efek samping yang disebutkan sebelumnya tidak mempunyai hubungan dengan pemberian vaksin pada anak. Meski begitu, ada beberapa vaksin yang memang memiliki beberapa efek samping pada anak.
Alergi merupakan efek samping yang paling umum ditemui. Salah satunya adalah alergi vaksin polio dan vaksin MMR. Hal tersebut bisa menjadi lebih parah jika anak memang memiliki sejarah alergi dalam keluarganya, sehingga kemungkinan besar lebih sensitif terhadap alergen makanan.
"Anda memiliki luka di tangan, ada bekas kemerahan di tempat suntikan. Itu merupakan hal yang sering kita lihat. Sayangnya efek merugikan yang serius benar-benar jarang ditemukan," imbuh dokter anak di Texas ini lagi.
(up/up)











































