Cara Aman Ajak Batita Main Perosotan Agar Terhindar dari Cedera Kepala

Cara Aman Ajak Batita Main Perosotan Agar Terhindar dari Cedera Kepala

- detikHealth
Senin, 11 Agu 2014 11:02 WIB
Cara Aman Ajak Batita Main Perosotan Agar Terhindar dari Cedera Kepala
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Salah satu permainan yang digemari anak-anak adalah perosotan. Namun hati-hati, khusunya bagi anak di bawah usia tiga tahun (batita) yang belum bisa menjaga keseimbangan, meluncur dari perosotan bisa mengakibatkan cedera kepala ringan hingga berat.

Menanggapi hal ini, pakar neurosains terapan dr Anne Gracia mengatakan untuk anak yang belum memiliki kendali keseimbangan yang baik, sebaiknya jangan diberi permainan yang terlalu tinggi, salah satunya perosotan.

"Untuk perosotan cari posisi terbaik dari anak di mana kita pegang dia. Bukan di tangan karena ada sendi dan bisa terlepas. Maka mengamankan anak dengan tangan kita ada di depan tubuh dia," kata dr Anne ketika ditemui di Graha Unilever dan ditulis pada Senin (11/8/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, batita bisa mulai bermain perosotan dengan jarak merosot yang rendah terlebih dulu. dr Anne mengingatkan, jangan pula si anak dipegangi terus ketika mereka main perosotam karena lama-lama anak bisa tidak percaya diri.

Terkait cedera kepala akibat terjatuh saat amak bermain perosotan atau kepala terbentur dataran berupa aspal, ada cedera skala ringan hingga berat. Cedera skala ringan terjadi di bagian kulit sehingga hanya terjadi luka saja.

Sementara itu, cedera yang agak berat belum tentu langsung menimbulkan cedera pada tengkorak, tetapi bisa juga di otak. Sebab, menurut dr Anne di dalam tengkorak masih ada cairan yang bisa mengamankan otak ketika ada goyangan.

"Tetapi kalau otaknya mengalami benturan sehingga membal balik, misal benturan keras ke kiri otaknya berbalik ke kanan itu bisa gegar otak. Lebih parah tengkoraknya sudah retak. Cukup banyak kasus apalagi kalau kepala memang membentur dataran keras ditambah efek gravitasi, anak bisa sampai meninggal dunia," tutur dr Anne.

(rdn/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads