Maka dari itu, pakar tumbuh kembang anak DR dr Rini Sekartini SpA(K) menegaskan untuk anak balita, pola makan yang baik dan benar harus memenuhi kaidah gizi seimbang. Artinya, harus terpenuhi kebutuhan akan karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin dan mineral.
"Dari semua itu porsi terbanyak adalah karbohidrat. Frekuensi makan untuk anak adalah 3 kali makan besar, pagi, siang dan sore. Serta 2 kali snack pagi dan sore," tutur dr Rini dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (1/9/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, obesitas pada anak bisa berujung pada meningkatnya penyakit kardiovaskular, diabetes, dan hipertensi. Khususnya pada anak laki-laki, peneliti dari Westmead Millennium Institute (WMI), Sydney menemukan bahwa anak laki-laki yang mengalami kegemukan rata-rata memiliki kualitas hidup yang lebih rendah.
"Dampak psiko-sosial negatif dari obesitas pada remaja laki-laki ternyata lebih besar daripada remaja perempuan. Pasalnya studi ini menunjukkan bahwa status berat badan yang tak sehat dan lemak tubuh yang berlebihan memberi dampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental remaja, terutama pada remaja laki-laki," kata ketua tim peneliti, Bamini Gopinath.
Nah, untuk memantau kelebihan berat badan, dr Rini menyarankan sebaiknya dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan secara berkala yakni setiap 6 bulan. Menurut dr Rini, dari ukuran keduanya dapat diketahui apakah anak mengalami gizi lebih atau obesitas.
"Harus dicermati bahwa kenaikan berat badan diukur dalam 1 tahun yaitu kenaikannya sekitar 2-4 kg selama 1 tahun. Jadi tidak setiap bulan berat badan anak naik," tegas dr Rini.











































