"Janin di dalam tubuh itu mempunyai kapasitas yang sangat plastis, ibarat karet itu melar. Jadi kalau janin diberi makanan yang sedikit maka ia akan menyesuaikan diri," terang Prof dr Endang L Achadi, MPH, Dr.PH., di seminar Nutritalk dalam rangka ulang tahun ke-60 Sari Husada di Hotel Hyatt Yogyakarta dan ditulis Rabu (3/9/2014).
Dengan begitu, menurut staf pengajar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI tersebut, bila janin terbiasa mendapatkan asupan makanan yang sedikit dari ibunya, apalagi dalam jangka waktu yang panjang, maka ia akan tumbuh menyesuaikan diri dengan makanan yang diberikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Prof Endang menerangkan bilamana janin terbiasa kekurangan gizi di 1000 hari pertama dan tumbuh dengan organ dan tubuh yang kecil maka ketika diberi makanan yang agak berlebihan, maka yang muncul justru risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, stroke dan penyakit jantung di kemudian hari karena adanya ketidakcocokan jumlah makanan yang diasup sejak dalam kandungan dan yang diberikan ketika dewasa.
"Konsep yang disebut 'Mismatch' ini juga berkaitan dengan fenomena kurang gizi pada janin, karena terjadi mismatch atau ketidakcocokan antara yang biasa dia makan dengan yang sekarang dimakan," imbuhnya.
Lantas bagaimana menanggulanginya? Ketua II PP PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia) mengungkapkan hal ini dapat diatasi dengan memperhatikan asupan pada si ibu dan pentingnya memiliki berat badan ideal ketika hamil.
"Jadi gizinya harus seimbang. Makannya pakai (konsep) Piring MakanKu, jadi sepertiga buah, sepertiga lauk dan makanan pokok. Kalau awal (kehamilan) baiknya (asupan) protein dan vitamin yang diperbanyak. Lalu di trimester kedua dan ketiga ditambah makanan sumber energi tapi tetep jangan lupa protein," sarannya.











































