Anak Tak Aktif Usai Kemoterapi Bisa Jadi Ada Gangguan di Sistem Sarafnya

Anak Tak Aktif Usai Kemoterapi Bisa Jadi Ada Gangguan di Sistem Sarafnya

- detikHealth
Minggu, 14 Sep 2014 09:22 WIB
Anak Tak Aktif Usai Kemoterapi Bisa Jadi Ada Gangguan di Sistem Sarafnya
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kemoterapi yang dilakukan pasien anak penyandang kanker bisa menimbulkan efek samping seperti muntah, mual, atau kehilangan nafsu makan. Selain itu, sistem saraf anak juga bisa terkena efek samping kemoterapi lho.

Seperti penuturan dr Sri Erni Istiawati SpS dari RS Kanker Dharmais, sistem saraf bisa terganggu akibat efek samping dari pengobatan kanker yang sudah atau sedang berlangsung.

"Tetapi bukan berarti ada efek samping pengobatan harus dihentikan. Maka tugas dokter saraf adalah membantu bagaimana supaya pasien nyaman, gangguan teratasi dan pengobatan jalan terus," kata dr Erni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misalnya saat menjalani kemoterapi, anak bisa rewel terus atau tidak bergairah karena sakit kepala. Efek samping lain yang bisa terjadi adalah mata si anak menutup terus dan enggan berkedip, demikian dikatakan dr Erni usai Seminar Ilmiah 'Mengenali Tanda-tanda Dini Kanker pada Anak' hasil kerja sama Yayasan Onkologi Anak Indonesia dan RS Dharmais di RS Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, dan ditulis pada Minggu (14/9/2014).

"Kalau sakit kepala, sehari-hari sering kita lihat anak tadinya main, aktif ini kok tiduran terus dan nggak mau ngapa-ngapain. Ini jangan dianggap malas, orang tua atau dokter perlu mengecek ada apa ya ini kok malas berdiri, mungkin tubuhnya tidak seimbang mungkin sakit kepala. Jangan cepet mjudge jadi malas," terang dr Erni,

Gejala sering menutup mata sampai enggan berkedip menurut dr Erni bisa karena silau atau bayangan yang terlihat dobel karena adanya gangguan pada saraf mata. Bahkan, bisa juga anak memiliki ada halusinasi menyeramkan sehingga dia tutup mata.

Jika seperti itu, orang tua justru jangan menganggap si anak aneh tetapi segera konsultasikan ke dokter. Dokter pun dikatakan dr Erni juga jangan anggap si anak hanya mengada-ada saja, tetapi langsung dirujuk ke spesialis saraf.

Untuk sakit kepala, kebanyakan anak memang tidak menyatakannya secada langsung tetapi dia rewel dan tidak aktif. Nah, setelah orang tua memperhatikan ada yang tidak beres segera beri tahu dokter yang menangani. Saat si dokter tanggap, maka akan dirujuk ke spesialis saraf untuk melihat ada apa dengan sistem saraf si anak.

"Tugas saya ya memberi tahu saraf yang terganggu yang ini, bisa jadi karena pengaruh proses terapi yang meluas atau obat. Lalu, itu semua butuh pemeriksaan apa, supaya pengobatan tetap jalan. Nantinya, pengobatan kami lakukan bersama dengan dokter primernya, kita tentukan bersama sebaiknya diberi obat apa," tutup dr Erni.

(rdn/ajg)

Berita Terkait