Wanita berusia 36 tahun yang kini resmi menjadi seorang ibu itu awalnya dilahirkan tidak memiliki rahim. Kemudian, ia mendapat sumbangan rahim dari temannya yang berusia 61 tahun dan sudah menopause tujuh tahun sebelumnya.
Atas alasan pengobatan kanker dan menghindari bayi lahir cacat, seorang wanita bisa tetap hidup walaupun tanpa rahim yang berfungsi. Namun, jika seorang wanita tetap ingin memiliki anak maka satu-satunya jalan adalah dengan transplantasi rahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bayi laki-laki ini berada di dalam kandungan 32 pekan lamanya dan lahir secara prematur. Detak jantung bayi pasca lahir sempat tidak normal karena sang ibu mengalami pre-eklampsia. Tetapi, saat ini kondisi keduanya sudah pulih dan baik-baik saja.
Meskipun identitas pasangan suami istri ini belum diberitakan, namun sudah diketahui bahwa ovarium sang istri masih berfungsi. Bahkan, saat masih terlarut dalam bahagia karena kelahiran anak pertamanya, mereka sudah memikirkan untuk memiliki anak kedua.
"Ini adalah perjalanan panjang dan sulit yang kami lewati. Sampai akhirnya kami memiliki bayi yang sangat luar biasa. Anak kami tidak berbeda dengan anak-anak lainnya, tetapi anak kami akan memiliki sesuatu yang spesial untuk diceritakan," tutur ayah si bayi dalam sebuah wawancara anonim dengan AP News Agency, seperti dikutip detikHealth dari BBC dan ditulis pada Senin (6/10/2014).
Beberapa kasus transplantasi rahim yang pernah dilakukan sebelumnya, sering menemui kegagalan seperti rahim terasa sakit hingga harus diangkat kembali hingga kasus terjadinya keguguran.
Prof Mats Brannstorm, sebagai pemimpin tim transplantasi rahim mengungkapkan bahwa ia dan timnya merasa sangat gembira atas kelahiran bayi di Swedia. Setelah lebih dari 10 tahun meneliti dan bereksperimen, ia tidak menyangka bahwa hasil kerja kerasnya beserta tim kini membuahkan hasil yang gemilang.
"Ini tentunya membuka harapan yang besar bagi pasangan suami istri yang terlanjur berpikir bahwa mereka tidak akan memiliki anak," papar Liza Johannesson, seorang ahli ginekologi yang merupakan salah satu anggota tim transplantasi.
(ajg/up)











































