Tips Bagi Orang Tua Agar Anak Tak Cari Info Sendiri Soal Pornografi

Tips Bagi Orang Tua Agar Anak Tak Cari Info Sendiri Soal Pornografi

- detikHealth
Minggu, 12 Okt 2014 13:01 WIB
Tips Bagi Orang Tua Agar Anak Tak Cari Info Sendiri Soal Pornografi
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Konten-konten dewasa seperti pornografi atau sesuatu yang mengandung unsur kekerasan memang tak seyogianya dikonsumsi anak-anak. Meski di kehidupan sehari-hari, konten-konten seperti itu bisa saja ditemui lewat buku, film, atau tayangan di televisi.

Nah, sebagai bentuk 'pertahanan' diri bagi anak, orang tua perlu mengajarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat termasuk juga pendidikan seks usia dini. Cara lain yang bisa dilakukan yakni dengan memupuk anak menjadi individu yang kritis, demikian dikatakan psikolog Ajeng Raviando.

"Dengan menstimulasi agar anak menjadi kritis, ketika dia lihat materi yang tidak seharusnya dia akan tahu itu tidak tepat dan tidak benar maka ia harus menceritakan atau bertanya pada orang tuanya untuk memastikan," kata Ajeng saat ditemui di Transmart Serpong Centre, Cikokol dan ditulis pada Minggu (12/10/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah awal, sejak dini beri tahu rambu-rambu dalam kehidupan si kecil. Misalnya sebelum usia 17 tahun, materi terkait anak dan remajalah yang bisa dikonsumsi mereka. Dengan begitu, ketika melihat sesuatu yang tidak seharusnya, anak bisa merasa ada yang aneh. Cara sepeti itu diibaratkan Ajeng akan membuat anak membentuk 'pagar' sendiri untuk dirinya.

Apalagi, diakui psikolog dari Teman Hati Konseling itu saat ini orang tua sulit untuk mencegah anak melihat sesutau yang tidak seharusnya. Cara lain yang bisa dilakukan orang tua yakni peka dan terbuka dengan anak. Lebih peka dengan anak akan membuat orang tua sensitif dengan adanya perubahan pada anak.

Ajeng menuturkan, ketika sudah melakukan kesalahan termasuk melihat atau menelusuri sesuatu yang tidak seharusnya seperti pornografi, anak bisa menunjukkan kegelisahan atau rasa bersalah. Untuk menanggapinya, jutsru jangan marahi si anak. Justru, orang tua harus bisa mengendalikan situasi dengan mengajak si anak mengobrol apa yang sudah ia lakukan. Kemudian, lihat reaksi anak kala itu. Jika terlihat ia merasa bersalah atau tidak nyaman, jelaskan pelan-pelan bahwa yang ia lakukan memang keliru.

"Kasih tau bahwa gambar itu tidak untuk dilihat anak seusianya. Gali juga dengan bertanya hal tersebut baik atau tidak dan harusnya apa yang dilakukan anak. Sambil berdiskusi dan mendengar pendapat anak, perlahan masukan arahan agar anak punya prinsip bahwa yang ia lakukan tidak tepat dan ia pun punya rambu dalam hidupnya," jelas Ajeng.

Ketika orang tua tak memfasilitasi anak, dikatakan Ajeng nantinya anak justru tidak memiliki tempat untuk bertanya. Akibatnya, ia bisa bertanya pada teman-temannya hingga informasi yang didapatkan salah, atau bahkan anak justru asyik sendiri mengeksplor hal-hal baru yang ia temukan.

"Intinya orang tua harus peka, sensitif, dan tahu karakter anaknya seperti apa. Stimulasi sikap kritis dia dengan membicarakan hal-hal di sekitar dan sering berdiskusi sehingga anak percaya pada orang tua dan mau terbuka," tutup Ajeng.

(rdn/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads