Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) mengatakan, tes HIV dan berbagai layanan untuk mencegah penularan dari orang tua ke anak saat ini relatif mudah untuk diakses. Beberapa puskesmas di Jakarta bahkan sudah mampu melayani kelahiran normal untuk ibu yang positif HIV.
Meski begitu, penularan HIV dari orang tua ke anak tetap saja terjadi. Banyak faktor yang membuat risikonya tetap tinggi, antara lain rendahnya kesadaran untuk deteksi dini serta kurangnya kontrol rutin selama masa kehamilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mencegah penularan HIV ke anak harus dimulai dengan deteksi dini dan pemeriksaan yang teratur sejak merencanakan kehamilan. Selama kehamilan pun, jumlah virus (viral load) dan CD4 yang mengindikasikan kemampuan sistem imunnya harus selalu dikontrol oleh petugas kesehatan.
Menurut Melly, salah satu kendalanya adalah stigma negatif yang melekat pada pengidap HIV. Jangankan untuk kontrol secara rutin, sekadar untuk melakukan tes HIV saja kadang-kadang kaum perempuan merasa sungkan karena takut disangka pecandu narkoba atau pelaku seks bebas.
"Tantangan terberatnya ya itu, soal stigma. HIV masih banyak dikaitkan dengan moral," kata Melly.
Laporan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa saat ini kasus AIDS (Acquired Imuno Deficiency Syndrome) paling tinggi adalah pada ibu rumah tangga. Hingga triwulan II tahun 2014, kasus AIDS pada kelompok ini tercatat sebanyak 6.516 kasus.
(up/vta)











































