"Semua pasti ada masanya. Dulu mungkin anak suka dicium dan dipeluk di depan umum. Tapi kemudian hal ini membuat mereka risih. Umumnya dialami anak mulai usia 8-9 tahun atau praremaja," kata psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (18/12/2014).
Menurut Ratih, kedekatan emosional antara orang tua dan anak tidak harus melalui sentuhan fisik. Orang tua juga perlu memahami bahwa anak pun memerlukan privasi, sehingga orang tua jangan mengungkung anak dalam 'sangkar' yang diciptakan versi orang tua.
"Anak perempuan, misalnya, nggak mau lagi dipeluk ayahnya di depan teman-temannya. Mungkin merasa malu karena seolah dia seperti anak kecil. Jika demikian, jangan mempermalukan anak dengan memaksanya mendapat pelukan di depan teman-temannya," saran Ratih.
Orang tua manapun akan berada di suatu masa anak-anaknya menjadi lebih mandiri. Semakin bertambah usia anak, utamanya jika mereka sudah dewasa, maka peran orang tua dalam aktivitasnya semakin sedikit. Nah, orang tua harus siap dengan fase ini.
"Jangan tempatkan anak dalam kotak yang dikekepin terus. Karena bagaimanapun anak punya kehidupan sendiri. Kalau hidupnya terlalu dicampuri tentu nggak sehat juga, padahal anak sudah mandiri, misalnya saat sudah berumah tangga," sambung Ratih.
Menurut Ratih, pelukan dan ciuman masih bisa menjadi aktivitas memanjakan yang disenangi anak, jika memang dilakukan di waktu dan tempat yang tepat. Misalnya saja saat anak sedih, orang tua bisa menghibur sembari memeluknya untuk memberikan rasa nyaman. Atau jika anak mendapat prestasi bagus, ciuman sayang bisa tetap dilayangkan ke kening dan pipinya.
"Bukan berarti kalau anak nggak mau dipeluk mereka nggak mau lagi dekat-dekat orang tuanya. Tapi anak kan tumbuh, nggak selamanya mereka hidup dengan dipeluk-peluk dan dicium-cium seperti saat mereka kecil," ucap Ratih.
(vit/up)