ADVERTISEMENT

Jumat, 19 Des 2014 11:36 WIB

Masih Ada Harapan, Janin yang Tumbuhnya Terhambat Masih Bisa Diselamatkan

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kondisi janin yang pertumbuhannya terhambat di kandungan bisa dialami oleh ibu hamil. Penyebabnya beragam, mulai dari kelainan genetik, malnutrisi, atau fungsi plasenta yang menurun.

"Bisa juga karena air ketubannya menipis, fungsinya menurun. Fungsi plasentanya terganggu sehingga asupan nutrisi terhambat, berat badan bayi akhirnya tidak bertambah," tutur dr Sita Ayu Arumi SpOG ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (19/12/2014).

Ditambahkan dr Sita, ketika janin tidak berkembang di trimester awal, penyebabnya bisa karena faktor genetik, riwayat pembedahan, pengentalan darah dan infeksi. Untuk mengatasi kondisi ini pun perlu dilihat dulu penyebab mengapa perkembangan janin bisa terhambat.

"Jika ibu kekurangan nutrisi ya diperbaiki nutrisinya. Intinya bagaimana kita pertahankan supaya bayi bisa survive di kandungan sampai waktunya dia lahir tiba. Kalau tidak bisa survive, terpaksa dilahirkan," imbuh dokter yang praktik di RS Bunda Jakarta ini.

Senada dengan dr Sita, dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan untuk penanganan janin yang pertumbuhannya terhambat harus diketahui dulu penyebabnya, dilihat dari sisi ibu, janin dan plasenta. Jika diketahui penyebabnya dan sekiranya penyebabnya bisa dikoreksi maka akan dicoba untuk dikoreksi.

Pada prinsipnya, lanjut dr Hari, sebisa mungin janin tersebut dibesarkan di dalam rahim. Namun, jika dianggap apabila dipertahankan di dalam rahim ada sesuatu yang mengakibatkan kondisi si janin makin buruk, maka harus dilahirkan dan dicoba dibesarkan lewat inkubator.

"Janin dan ibu hubungannya mirip seperti buah dan pohonnya. Kalau putus tangkainya sebelum matang anggap saja mangga maka akan jadi pencit. Tapi bisa dicoba ditunggu dulu dengan berbagai cara supaya mangga ini tetap jadi matang bahkan setelah lepas dari pohonnya. Apa dieram atau dikarbit. Ada juga yang sudah matang tapi nggak putus-putus, 80% masak pohon dan putus," terang dr Hari.

(rdn/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT