dr Anung Sugihantono, MKes, Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa berdasarkan data yang dimilikinya, kunjungan antenatal pertama (K1) oleh bumil mencapai 90 persen. Namun pada K4 atau menjelang kelahiran, hanya 60 persen bumil yang melakukan pemeriksaan.
"Antenatal K1 itu kira-kira di atas 90 persen. Nah, ini yang jadi PR kita memang ketika K4, hanya sekitar 60 persen," tutur dr Anung kepada wartawan di Gedung Kementerian Kesehatan, Jl Rasuna Said, Kuningan, Senin (22/12/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kata-kata 'Nggak apa-apa, hamilnya bagus, normal' itu punya dampak besar lho. Memang mungkin niatnya untuk menenangkan ya," tutur dr Anung.
Karena merasa kehamilannya normal, maka ibu hamil sering merasa tidak perlu lagi mengunjungi dokter. Apalagi jika ibu hamil mendapat informasi yang menyesatkan dari generasi terdahulu seperti nenek atau orang tua. Padahal banyak kondisi kehamilan yang berbahaya tidak terdeteksi pada kehamilan trimester awal.
Eklampsia misalnya. dr Anung mengatakan bahwa ekslamsia yang terjadi ketika ibu melahirkan tidak memiliki tanda-tanda khusus. Ekslampsia bisa dicegah jika pada pemeriksaan ditemukan gejalan darah tinggi.
Oleh karena itulah, pendampingan sangat perlu dilakukan untuk ibu hamil. Pendamping dapat mengingatkan atau mengantar ibu hamil untuk melakukan kunjungan rutin ke dokter.
"Kalau nggak ke dokter atau bidan kan nggak tahu tekanan darahnya tinggi atau tidak. Makanya sangat perlu pendamping. Kalau ada pendamping kan bisa diingatkan untuk K2, K3 dan K4-nya," ungkapnya.
(mrs/vit)











































