ASI Dapat Membantu Agar Anak Kelak Bisa Mengontrol Emosinya

Mengenal Induced Lactation

ASI Dapat Membantu Agar Anak Kelak Bisa Mengontrol Emosinya

- detikHealth
Kamis, 05 Mar 2015 18:00 WIB
ASI Dapat Membantu Agar Anak Kelak Bisa Mengontrol Emosinya
ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - ASI dan kolostrum mengandung triptofan yang penting untuk pengembangan serotonin otak. Dengan serotonin yang tinggi, maka anak akan menjadi sosok yang lebih lembut. Sebab serotonin berguna untuk mengontrol emosi.

"Serotonin bisa tinggi kalau diberi ASI, kenapa? ASI itu kadar Mn-nya (mangan) rendah, sedangkan susu sapi dan susu formula kadar Mn-nya tinggi, kadar Mn yang tinggi itu akan memblokir produksi serotonin," jelas dr Asti Praborini, SpA dari RS Kemang Medical Care (KMC) saat ditemui detikHealth dan ditulis pada Kamis (5/3/2015).

Lalu bagaimana dengan bayi yang menyusu kepada ibu adopsinya melalui mekanisme induced lactation atau mencetuskan penyusuan ibu? Menurut dr Asti, jika ASI ibu adopsi masih sedikit, maka digunakan alat suplementer yang berisi susu formula atau ASI donor. Karena masih selalu ada asupan ASI, ini jauh lebih baik ketimbang tidak ada ASI yang masuk sama sekali. Ke depannya, diharapkan ASI ibu adopsi semakin berlimpah, sehingga bayinya tidak perlu bergantung pada susu bantu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Asti menyebut berdasar pada '21 Dangerous of Infant Formula, the Infant Formula Companies Don't Want You to Know' yang disampaikan Ms. Nancy Forrest (RN, BSN, IBCLC), Fellow of WABA-ILCAF2011/2012, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), pada Februari 2012, susu formula tidak dianjurkan diberikan karena meningkatkan peluang anak mengalami asma, alergi, infeksi telinga, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, serta infeksi pernapasan. Selain itu perkembangan kognitifnya menjadi lebih rendah, rentan mengalami obesitas, anemia defisiensi besi, juga kematian bayi mendadak (Sudden Infrant Death Syndrome/SIDS).

Sejumlah ancaman kesehatan lainnya antara lain diabetes tipe 1 dan 2, gangguan pencernaan, kanker anak, paparan kontaminan lingkungan, gangguan tidur (sleep apnea), masalah gigi dan maloklusi, gangguan perilaku, serta autisme.

Sementara bahaya susu formula untuk ibu adalah meningkatkan risiko mengalami diabetes (gestasional maupun tipe 2), obesitas dan kelebihan berat badan, osteoporosis, kanker payudara, kanker indung telur, dan kanker rahim. Selain itu juga masih ada ancaman hipertensi dan penyakit kardiovaskular, alzheimer, dan bisa memperpendek jarak kelahiran.

"Bagusnya sih ASI eksklusif tapi kan bagi ibu pasien adopsi agak susah aksesnya, kecuali isi suplementernya itu ASI donor," tutur dr Asti.

Jika mendapat ASI donor, maka harus dipasteurisasi dulu supaya kalau si pemberi ASI punya penyakit tidak menular ke bayi. Caranya adalah dengan memanaskan air dalam panci, setelah itu ASI dalam botol susu dimasukkan ke dalam air panci tersebut.

"Keseluruhan ASI harus ditenggelamkan di dalam panci selama 20 menit agar penyakit yang ada di ibu tidak tertular ke anak, penyakit HIV pun mati," ucap dr Asti. (Nurvita Indarini/Ajeng Anastasia Kinanti)

Berita Terkait