10 Mitos Menyusui yang Masih Banyak Dipercaya (2)

10 Mitos Menyusui yang Masih Banyak Dipercaya (2)

- detikHealth
Selasa, 31 Mar 2015 11:01 WIB
10 Mitos Menyusui yang Masih Banyak Dipercaya (2)
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Menyusui merupakan aktivitas yang sudah natural dilakukan oleh seorang ibu untuk anaknya yang baru lahir. Namun meski natural bukan berarti menyusui adalah perkara yang mudah.

Banyak informasi dan mitos di masyarakat beredar terkait menyusui dan apabila salah percaya hal ini bisa mempengarungi aktivitas menyusui. Oleh karena itu dikutip detikHealth dari berbagai sumber pada Selasa (31/3/2015), berikut adalah mitos-mitos yang perlu diperhatikan oleh seorang ibu:

1. Ibu menyusui tak bisa hamil

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Pada banyak kebudayaan kuno wanita-wanitanya sengaja menyusui untuk memberi jarak, menunda kehamilan. Hal ini mungkin bisa dilakukan pada beberapa wanita namun bukan jaminan akan bebas hamil seratus persen.

Penggunaan kontrasepsi berbasis hormon tapi juga tidak baik digunakan karena bisa mengurangi produksi air susu ibu (ASI). Oleh karena itu dokter menyarankan cara terbaik mencegah kehamilan pada saat menyusui adalah dengan kontrasepsi seperti kondom.

2. Menyusui sakit

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Seorang ibu muda mungkin akan mendengar bahwa awal-awal menyusui itu sakit tapi kenyataannya tidak demikian. Rasa awal yang umum muncul ketika pertama kali menyusui adalah geli, namun bila sakit bisa jadi itu tanda ada sesuatu yang salah.

"Seorang ibu seharusnya tidak mengernyit nyeri, gemetar kesakitan, atau memiliki puting retak berdarah," ujar Krista Gray, konsultan laktasi bersertifikat internasional dan pendiri Nursing Nurture Lactation Services.

Jika ibu merasa nyeri dan tak ada masalah yang bisa ditemukan pada payudara maka kemungkinan besar posisi menyusuinya yang salah. Gray mengatakan agar ibu berkonsultasi dengan ahli laktasi untuk menemukan posisi menyusu yang sesuai dengan dirinya.

3. Bayi ingin minum terus tanda ASI kurang

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jika bayi terus menangis dan seperti ingin terus minum, bukan berarti ini pertanda bahwa produksi ASI ibu kurang. Gray mengatakan bayi bisa jadi ingin menyusu tapi bukan untuk mencari makan.

"Ini tidak selalu tentang susunya. Sentuhan dan perasaan dekat dengan ibu juga penting untuk seorang bayi," ujar Gray.

Gray mengatakan menyusui langsung tak seperti menyusu lewat botol yang dapat terlihat takarannya. Indikator terbaik apakah bayi sudah cukup menyusu adalah dengan melihat penambahan berat, jumlah popok kotor, patokan perkembangan, wajah puas 'mabuk ASI', dan insting naluriah seorang ibu.

4. Besar payudara pengaruhi jumlah produksi ASI

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Payudara memang berukuran macam-macam dan sekilas orang mungkin akan berpikir kapasitas ASI yang dapat diproduksi akan sangat tergantung oleh besarnya. Hal ini namun ditampik oleh dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM.

dr Utami yang tiap hari praktik di RS St Carolus Salemba mengatakan kalenjar susu yang menghasilkan ASI tak berkaitan langsung dengan ukuran payudara. Besar payudara bisa besar namun hal ini dikarenakan kandungan lemak yang banyak sehingga produksinya bisa jadi kecil.

"Besar kecilnya payudara ditentukan banyak sedikit lemak, bukan jumlah kelenjar susu," tegas dr Utami.

5. Minum banyak susu bisa perbanyak produksi ASI

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Ada kepercayaan bahwa seorang ibu yang banyak minum susu baik itu formula atau susu segar akan menambah produksi ASI-nya. Terkait hal tersebut dr Utami juga tak membenarkannya.

Ia mengatakan bahwa derasnya produksi ASI bergantung dari stimulasi seberapa sering ASI dikeluarkan. Jika ibu sering menyusui dan memompa payudaranya maka ASI yang dihasilkan juga akan bertambah.

"Banyak sedikit produksi ASI ditentukan banyak sedikitnya ASI dikeluarkan. Makin banyak dikeluarkan makin banyak diproduksi, tidak dipengaruhi oleh makanan atau minuman ibu," papar dr Utami.

Hal sebaliknya juga berlaku bila ibu berhenti menyusui. Itu lah mengapa ibu yang menyapih anaknya akan berhenti mengeluarkan ASI dalam beberapa waktu.
Halaman 2 dari 6
Pada banyak kebudayaan kuno wanita-wanitanya sengaja menyusui untuk memberi jarak, menunda kehamilan. Hal ini mungkin bisa dilakukan pada beberapa wanita namun bukan jaminan akan bebas hamil seratus persen.

Penggunaan kontrasepsi berbasis hormon tapi juga tidak baik digunakan karena bisa mengurangi produksi air susu ibu (ASI). Oleh karena itu dokter menyarankan cara terbaik mencegah kehamilan pada saat menyusui adalah dengan kontrasepsi seperti kondom.

Seorang ibu muda mungkin akan mendengar bahwa awal-awal menyusui itu sakit tapi kenyataannya tidak demikian. Rasa awal yang umum muncul ketika pertama kali menyusui adalah geli, namun bila sakit bisa jadi itu tanda ada sesuatu yang salah.

"Seorang ibu seharusnya tidak mengernyit nyeri, gemetar kesakitan, atau memiliki puting retak berdarah," ujar Krista Gray, konsultan laktasi bersertifikat internasional dan pendiri Nursing Nurture Lactation Services.

Jika ibu merasa nyeri dan tak ada masalah yang bisa ditemukan pada payudara maka kemungkinan besar posisi menyusuinya yang salah. Gray mengatakan agar ibu berkonsultasi dengan ahli laktasi untuk menemukan posisi menyusu yang sesuai dengan dirinya.

Jika bayi terus menangis dan seperti ingin terus minum, bukan berarti ini pertanda bahwa produksi ASI ibu kurang. Gray mengatakan bayi bisa jadi ingin menyusu tapi bukan untuk mencari makan.

"Ini tidak selalu tentang susunya. Sentuhan dan perasaan dekat dengan ibu juga penting untuk seorang bayi," ujar Gray.

Gray mengatakan menyusui langsung tak seperti menyusu lewat botol yang dapat terlihat takarannya. Indikator terbaik apakah bayi sudah cukup menyusu adalah dengan melihat penambahan berat, jumlah popok kotor, patokan perkembangan, wajah puas 'mabuk ASI', dan insting naluriah seorang ibu.

Payudara memang berukuran macam-macam dan sekilas orang mungkin akan berpikir kapasitas ASI yang dapat diproduksi akan sangat tergantung oleh besarnya. Hal ini namun ditampik oleh dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM.

dr Utami yang tiap hari praktik di RS St Carolus Salemba mengatakan kalenjar susu yang menghasilkan ASI tak berkaitan langsung dengan ukuran payudara. Besar payudara bisa besar namun hal ini dikarenakan kandungan lemak yang banyak sehingga produksinya bisa jadi kecil.

"Besar kecilnya payudara ditentukan banyak sedikit lemak, bukan jumlah kelenjar susu," tegas dr Utami.

Ada kepercayaan bahwa seorang ibu yang banyak minum susu baik itu formula atau susu segar akan menambah produksi ASI-nya. Terkait hal tersebut dr Utami juga tak membenarkannya.

Ia mengatakan bahwa derasnya produksi ASI bergantung dari stimulasi seberapa sering ASI dikeluarkan. Jika ibu sering menyusui dan memompa payudaranya maka ASI yang dihasilkan juga akan bertambah.

"Banyak sedikit produksi ASI ditentukan banyak sedikitnya ASI dikeluarkan. Makin banyak dikeluarkan makin banyak diproduksi, tidak dipengaruhi oleh makanan atau minuman ibu," papar dr Utami.

Hal sebaliknya juga berlaku bila ibu berhenti menyusui. Itu lah mengapa ibu yang menyapih anaknya akan berhenti mengeluarkan ASI dalam beberapa waktu.

(fds/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads