"ASI eksklusif minimal 6 bulan pertama itu yang terbaik. Karena selain gizinya yang bagus untuk bayi, ASI juga mengandung sistem kekebalan tubuh ibu, yang bisa masuk ke anak untuk memperkuat antibodi dan mencegah alergi," tutur dr Zakiudin Munasir, SpA(K), Ketua Divisi Alergi dan Imunologi FKUI-RSCM, dalam temu media Morinaga Allergy Week di Kalcare, Lotte Shopping Aveneu, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/4/2015).
Baca juga: Alergi Tungau, Penyebab Anak Batuk dan Bersin Hanya di Malam dan Pagi Hari
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan dr Zaki, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu apa pencetus atau pemicu alergi yang diidap bayi. Bisa jadi, bayi ternyata bukan alergi terhadap ASI-nya, tetapi pada zat makanan yang dikonsumsi ibu.
"Misalnya anak ternyata alergi telur. Memang si anak ini kan belum makan telur karena masih ASI ekslusif, tapi kalau ibunya makan telur kan zatnya bisa masuk ke bayi melalui ASI. Akhirnya anak mengalami alergi," ungkapnya lagi.
Prof Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes, Ketua Unit Kerja Koordinasi Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, mengatakan bahwa sebagian besar alergi makanan yang diidap anak akan hilang setelah usia 5 tahun. Sebabnya, antibodi dan sistem pertahanan tubuh anak sudah matang.
Meski begitu, beberapa alergi memang sulit hilang. Salah satu contohnya adalah alergi terhadap makanan laut seperti ikan dan udang, serta alergi kacang. Alergi ini akan dibawa hingga dewasa.
"Yang jelas berikan ASI eksklusif kepada anak, minimal 6 bulan pertama setelah kelahiran. Kalau alergi makanan biasanya akan hilang setelah usia lima tahun karena antibodinya sudah matang," pungkasnya.
Baca juga: Studi: Minum ASI Perkuat Sistem Imun dan Cegah Alergi Pada Bayi (Muhamad Reza Sulaiman/Nurvita Indarini)










































