Pakar tumbuh kembang anak, Dr dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi mengungkapkan bahwa di Indonesia 1 bayi (usia 0-12 bulan) meninggal tiap 35 menit dan 1 balita (0-60 bulan) meninggal tiap 12 menit. Padahal tiap tahun, ada sekitar 4,6 juta-5,5 juta kelahiran.
"Salah satu penyebabnya adalah orang-orang yang nggak peduli pada imunisasi," tegasnya dalam School of Vaccine for Journalist dengan tema Vaksin dan Bioteknologi untuk Masa Depan yang Lebih Baik di East Parc Hotel, Jumat (8/5/2015)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan hal ini sudah terbukti dengan adanya tiga wabah penyakit besar yang pernah menyerang anak-anak Indonesia. "Dalam kurun 2005-2006, ada wabah polio di Sukabumi, sebagian di Madura juga, dengan total (korban) hampir 351 anak, dan 305 kasus yang lumpuh permanen," paparnya.
Kedua, difteri di Jawa Timur (2009-2011). dr Miko mencatat anak yang dirawat akibat serangan difteri mencapai 1.200 lebih dan yang meninggal ada 120 anak. Kemudian ada juga campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat (2009-2011). Korbannya mencapai 5.000 anak, dan 16 di antaranya meninggal.
"Setelah dicek, ternyata 30 persen dari mereka tidak mendapatkan imunisasi sama sekali dan 40 persen lainnya mendapatkan imunisasi namun tidak lengkap," ungkap dr Miko.
Untuk itu diperlukan upaya pencegahan. Hanya saja menurut dokter yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Satgas Imunisasi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut, pemberian ASI, perbaikan gizi maupun menjaga sanitasi saja tidak cukup. Upaya-upaya itu tetap harus dibarengi dengan tindakan imunisasi.
Baca juga: Vaksin Apa Saja yang Perlu dan Tidak Diperlukan Bayi?
"ASI dan perbaikan gizi memang memperkuat kekebalan tapi ibarat rumah, ASI itu hanya pagar saja sedangkan imunisasi itu kunci kamar atau brankas. Kalaupun pagernya bisa dibobol kalau brankasnya nggak bisa dibuka, maling tidak bisa ngambil," terangnya.
Imunisasi juga telah terbukti dapat memberi perlindungan pada anak sebesar 85-95 persen. Selain itu, imunisasi dapat melawan kuman penyebab penyakit secara spesifik, dan lebih efektif membunuhnya.
"Tapi bukan berarti anak yang sudah diimunisasi tidak akan kena campak lagi, tapi jauh lebih ringan. Yang tidak diimunisasi bakal panas dingin diare sampai dirawat di rumah sakit," imbuhnya.
Ditemui dalam kesempatan terpisah, ahli madya marketing PT Bio Farma, dr Mahsun Muhammadi, MKK mengatakan bila anak tidak diimunisasi sesuai jadwal atau terlambat, maka harus sesegera mungkin dikejar keterlambatannya. "Sebaiknya sih tepat waktu, tapi kalau terlambat sih gapapa, mending daripada tidak sama sekali," tuturnya.
(lll/up)











































