Studi: 1 dari 3 Ibu Bekerja Berpotensi Memiliki Anak Stunting

Studi: 1 dari 3 Ibu Bekerja Berpotensi Memiliki Anak Stunting

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 23 Jun 2015 19:34 WIB
Studi: 1 dari 3 Ibu Bekerja Berpotensi Memiliki Anak Stunting
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Kesadaran untuk memberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi ibu dari golongan menengah ke bawah memang masih rendah. Hal yang sama ternyata juga terjadi pada sebagian ibu bekerja di kota-kota besar.

Dalam sidang promosi doktornya, Dr dr Aria Kekalih, MTI dari Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengatakan bahwa hampir 40 persen ibu bekerja di Indonesia merupakan tenaga kerja tidak terampil. Penelitian dr Aria menyebut bahwa hal ini berpengaruh terhadap asupan MP-ASI yang diberikan kepada anak.

"1 dari 3 ibu bekerja di Indonesia merupakan pekerja tidak terampil, dalam artian bekerja sebagai buruh pabrik atau buruh lainnya. Dalam komunitas ini tumbuh persepsi yang kompromi terhadap pemberian makanan seadanya karena keterbatasan sumber daya pengasuhan anak, disamping keharusan mereka untuk tetap bekerja," tutur dr Aria.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut ia sampaikan ketika ditemui wartawan usai sidang promosi doktornya di Gedung Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl Salemba Raya, Selasa (23/6/2015).

Efek pemberian MP-ASI tidak maksimal bisa berujung pada anak stunting. dr Aria mengatakan kurangnya pemberian MP-ASI dapat menghambat pertumbuhan anak. Yang akhirnya membuat anak memiliki tubuh pendek dan perkembangan kognitif otaknya terganggu.

"Ibu dari kelompok pekerja tidak terampil ini karena sibuk bekerja akhirnya memberi MP-ASI tidak maksimal, atau bahkan tidak memberikan MP-ASI karena menganggap ASI saja sudah cukup. Kan ini nggak bisa, ASI saja tidak cukup untuk anak di atas usia 6 bulan," ungkapnya lagi.

Untuk itu ia menyarankan agar ibu dari golongan pekerja tidak terampil untuk lebih memerhatikan kesehatan anak. Menurutnya tidak ada gunanya jika ibu bekerja untuk mencari uang, namun kesehatan anak malah terabaikan.

"Pilihannya dua, berhenti lalu memberikan perhatian terhadap MP-ASI anak. Tapi kan nggak semua bisa karena tuntutan ekonomi. Karena itu pilihan kedua adalah meminta kepada pihak pabrik atau perusahaan untuk memberikan bantuan atau tunjungan. Minimal ada ruang ASI dan ada pelatihan soal MP-ASI," tuturnya. (mrs/ajg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads