Selasa, 30 Jun 2015 13:06 WIB

Ketika Anak Jadi 'Bos Kecil', Adakah yang Salah?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Bagi orang tua, anak-anak adalah harta yang tak ternilai. Tak heran apapun yang diminta anak, orang tua berupaya untuk memberikannya. Bahkan sebutan 'bos kecil' untuk sang anak pun disematkan sebagai panggilan sayang.

Menurut psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi dari RaQQi Consulting, anak memiliki karakter yang unik. Sebab mereka memiliki kemampuan manipulatif yang cukup tinggi sehingga bisa mengontrol lingkungannya.

"Anak dikatakan manja kalau semua hal untuk dia, karena dia pegang kontrol yang tinggi dan jadi penuntut yang hebat," tutur Ratih dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (30/6/2015).

Baca juga: Orang Tua Boleh Saja Manjakan Anak, Tapi Sejauh Mana Batasnya?

Biasanya, anak-anak yang seperti ini merupakan anak yang menjadi pusat perhatian keluarga. Misalnya anak pertama, cucu pertama, anak tunggal, satu-satunya anak laki-laki atau satu-satunya anak perempuan.

Terkadang, lanjut perempuan berkerudung ini, ketika anak kecil memiliki banyak keinginan dan bisa menyampaikan kepada orang tuanya dianggap lucu. Misalnya ketika anak usia balita sudah bisa memilih baju dan makanan yang diinginkannya, orang tua menganggap hal itu lucu dan hebat. Karena terpesona dengan kelucuan itu, semua yang diinginkan anak pun dipenuhi dengan mudahnya. Alhasil jadi kebablasan dan orang tuanya pun kerepotan menghadapinya.

"Saya pernah menemui anak 5 SD yang disebut little boss banget. Semua hal dia yang tunjuk. Dia milih sekolah di rumah karena kalau sekolah di luar panas. Sampai sering pindah sekolah karena dia merasa tidak cocok. Untuk semua fasilitas, dia maunya yang first class," tutur Ratih.

Baca juga: Ini yang Dilakukan Choky Sitohang Agar Anaknya Tak Jadi Anak Manja

Untuk mengatasi perilaku seperti ini pada anak-anak, maka harus ditanamkan perilaku baru. Karena sudah terbiasa dengan perilaku lama yang dianggap enak dan nyaman, tentu bukan perkara mudah untuk menanamkan perilaku baru tersebut.

"Jadi pelan-pelan fasilitas untuknya dikurangi, sambil diberi pengertian. Keberhasilannya bergantung pada bagaimana orang tua menstimulasinya. Bisa kok ini ditangani," ucap Ratih.

(vit/vit)
News Feed