Selasa, 25 Agu 2015 17:05 WIB

Lahir Prematur, Anak Lebih Berisiko Terkena ADHD

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah gangguan hiperaktif yang bisa terjadi pada anak. Menurut studi, kelahiran prematur adalah faktor risikonya.

Ketika bayi lahir prematur otaknya belum sempurna berkembang sehingga sangat rentan terhadap gangguan. Selain itu kondisi yang membuat ibu harus melahirkan lebih cepat misalnya karena infeksi juga bisa memengaruhi bayi, seperti dikatakan dr Minna Sucksdorff, salah seorang peneliti dari University of Turku.

Kelahiran prematur dikatakan berperan besar dalam ADHD bahkan setelah memperhitungkan faktor lain seperti usia ibu, usia ayah, berat badan lahir, jumlah persalinan, kebiasaan penyalahgunaan obat dan merokok.

Baca juga: Divonis ADHD Waktu Kecil, Gedenya Jadi Nggak Karuan

"Banyak penelitian melihat peningkatan risiko ADHD pada kelahiran sangat prematur tapi masih sedikit yang melihat pada lahir prematur (minggu 34-36 -red) dan lebih sedikit lagi pada bayi lahir sedikit cepat (37-38 minggu)," kata dr Minna seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (25/8/2015).

Dengan melihat data sekitar 10 ribu anak Finlandia dari tahun 1991 sampai 2005, dr Minna bersama timnya membuat pemetaan risiko ADHD terhadap anak-anak yang lahir prematur sesuai dengan usia kehamilan ibu.

Studi yang telah dipublikasi di jurnal Pediatrics ini menemukan bayi yang lahir pada sekitar minggu ke-25 lahir dengan risiko ADHD lima kali lipat atau 500 persen daripada bayi lahir pada minggu ke-40. Bayi yang lahir pada sekitar minggu ke-38 memiliki risiko 12 persen ADHD lebih tinggi daripada yang lahir normal.

Setelah kelahiran prematur, berat badan bayi ketika lahir menjadi faktor kedua risiko ADHD. Bayi yang beratnya terlalu rendah atau terlalu tinggi bila dibandingkan usianya dalam kandungan akan berisiko alami ADHD.

dr Minna mengatakan harapannya penelitian dapat membantu mengidentifikasi ADHD lebih cepat pada anak. Deteksi dini dan intervensi dapat mengurangi dampak negatif yang biasanya baru diketahui saat anak memasuki usia sekolah.

Baca juga: Kenali Gejala ADHD Sebelum Anak Masuk Sekolah (fds/ajg)