Menurut psikolog anak dan remaja, sebaiknya yang dikenalkan pada anak bukanlah konsep hukuman tapi lebih kepada konsep konsekuensi. Yang namanya konsekuensi tentu harus nyambung antara sebab dengan akibatnya.
"Anak nggak mau makan lalu dihukum dengan dikurung di kamar, itu kan nggak nyambung. Nggak mandi tepat waktu lalu dicubit, uang jajannya nggak dikasih. Itu kan nggak nyambung," ucap psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (7/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketimbang menghukum yang 'nggak nyambung', lebih baik menerapkan konsekuensi sesuai perilaku anak. Misalnya jika anak tidak mandi tepat waktu maka waktunya menonton televisi jadi lebih sedikit atau bahkan jadinya tidak menonton televisi karena anak harus mengerjakan kegiatan lain yang sudah dijadwalkan.
"Atau kalau anak nggak mau makan, maka konsekuensinya adalah tidak beli camilan kesukaannya. Karena camilan itu baru dimakan setelah dia makan nasi, misalnya," sambung Ratih memberi pengandaian.
Jika anak tahu sebab akibat dan konsekuensi atas apa yang dia lakukan, maka anak akan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. "Sebaliknya jika anak sekadar dihukum, meskipun tujuan orang tuanya untuk membuat anak jera, tapi anak jadi tidak tahu konsekuensi. Akibatnya anak sering kali bertindak tanpa pernah tahu konsekuensinya apa ke depannya, karena yang dia tahu adalah hukuman," papar alumnus Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia yang saat ini berpraktik di RaQQi ini.
Baca juga: Bunda, Membentak Anak Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembangnya Lho
(vit/up)











































